Hamzah Haz: “Jangan Percaya Hasil Polling”

HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah berkampanye untuk pemilu presiden 5 Juli mendatang. Bersama Agum Gumelar, seorang pensiunan jenderal, Hamzah getol menyambangi (calon) konstituennya. “Kalau Allah mengizinkan, saya bisa menang,” ujar Hamzah, sangat percaya diri.

Hamzah memang harus memupuk kepercayaan dirinya. Maklum, “Si Peci Miring” kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, ini bukan calon presiden yang populer. Pelbagai jajak pendapat (polling) selalu menunjukkan pasangan Hamzah-Agum menempati posisi nomor buncit. Mayoritas responden menilai duet Hamzah-Agum tak cukup kapabel untuk menuntaskan pelbagai persoalan bangsa. Soalnya, track record Hamzah selama menjadi wakil presiden dinilai tak memuaskan publik.

Mengapa Hamzah akhirnya maju ke pencalonan presiden? Benarkah Hamzah hanya menjegal Amien Rais? Bagaimana kansnya? Wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Hamzah dalam beberapa kesempatan.

Berikut Kutipannya.

Anda adalah calon presiden yang terakhir mendaftarkan diri. Mengapa Anda terlambat mengambil keputusan?

Tidak terlambat. Saya mengikuti perkembangan politik yang ada.

Apa yang membuat Anda berani mencalonkan diri?

Prosesnya berlangsung sangat cepat. Pendaftaran saya hanya sehari sebelum batas akhir. Dewan Pengurus Pusat PPP menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Saya maju karena ini amanat dari Rapat Pimpinan Nasional PPP dan juga 9 juta pemilih PPP.

Mengapa Anda memilih Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden?

Pak Agum memiliki latar belakang militer dan nasionalis yang kuat. Beliau juga orang yang religius. Beliau tokoh dengan jaringan yang luas, mampu menembus batas-batas kelompok. Bagi saya, Pak Agum merupakan pasangan yang tepat. Saya dan Pak Agum dapat saling melengkapi.

Benarkah Anda sebenarnya tak serius, tapi hanya menjegal calon lain demi Megawati?

Saya tidak seperti itu. Kalau memang mau main mata dengan Ibu Megawati, itu bisa dilakukan sekarang. Tapi cara-cara seperti itu tidak benar. Pak Mahfud Md. bilang saya menjegal Pak Amien Rais. Pernyataan itu juga tak perlu ditanggapi. Mungkin ini jalan saya untuk mendapat pahala. Yang rugi justru Pak Mahfud sendiri.

Tapi memang Amien Rais paling dirugikan….

Kalau mau menjegal, kenapa harus berpayah-payah?

Pelbagai polling menunjukkan kans Anda paling kecil. Bagaimana?

Jangan terlalu percaya hasil polling itu. Yang ditanyakan dalam polling itu sangat sedikit. Tidak mewakili rakyat. Lagi pula belum tentu benar. Serahkan saja pemilu ini pada rakyat. Biar rakyat yang menentukan. Kalau memang Allah menghendaki, tentu saja saya dan Pak Agum bisa menang dalam pemilu presiden.

Bukankah ada polling yang menggunakan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan?

Tidak usah khawatir. Jumlah pemilih mencapai 150 juta. Sedangkan yang ditanya lewat polling cuma ribuan. Jadi kita tidak bisa tahu siapa yang akan menang nanti.

ICW bilang Anda membagi-bagikan uang saat kampanye. Apakah itu untuk memenangkan pemilu?

Kalau membagikan uang, mungkin hanya untuk mengganti ongkos. Mana mungkin kami bisa membagikan ba-nyak uang. Kami ini duafa.

Berapa total biaya kampanye Anda?

Itu tim sukses yang mengatur. Tapi kami akan banyak mengandalkan partisipasi para simpatisan. Saya dan Pak Agum juga menyumbang. Tapi jumlahnya sedikit.

Kalau jadi presiden, apa yang akan segera Anda lakukan?

Kita harus membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Itu persoalan utama yang harus diurus. Kualitas SDM kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Untuk itu, saya akan memperbaiki sistem pendidikan kita. Saya akan membebaskan biaya pendidikan bagi anak SD sampai SMA. Mereka harus diberi kesempatan se-kolah secara gratis.

Mungkinkah?

Jangan lupa, kita adalah negara kaya. Kekayaan alam melimpah. Kalau itu bisa dimanfaatkan, dan korupsi diberantas, sekolah tentu bisa diberikan secara gratis.

Kalau Anda menang, benarkah Anda akan mengupayakan penerapan syariat Islam?

Bagi saya, ideologi Pancasila sudah final. Itu tidak bisa diganggu-gugat lagi. PPP memang sangat kental dengan Islam. Tapi Pancasila juga punya “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itu merupakan dasar untuk kita ber-habluminallah dan ber-habluminannas. Jadi, tidak ada masalah antara Pancasila dan Islam.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: