Harry Roesli: “Rakyat Cuma Dikibulin Elite Politik”

KITA kenal sosok yang suka berpakaian hitam-hitam ini. Kuliah di Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), tiga kali masuk penjara saat usianya 20-an tahun. Harry Roesli memang tidak pernah merampungkan kuliahnya. Pada 1978, ia keluar dari sekolah teknik tersebut, tapi tak kunjung beranjak dari tiga hal: sosok seorang “anak nakal”, kritis terhadap para aktor politik negeri ini, dan menggeluti musik.

Bahkan terakhir, setelah Soeharto lengser pada 1998 dan zaman berubah, ia sempat membuat sebuah “kenakalan” kritis. Dengan sebuah gitar di tangan, ia menyanyi, memelesetkan satu lagu wajib yang telah berpuluh tahun diperlakukan secara sakral. “Garuda Pancasila/ Aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmu/ Pancasila dasarnya apa?/ Rakyat adil makmurnya kapan?/ Pribadi bangsaku tidak maju-maju.”

Harry tidak senang birokrasi, tapi tidak anti-negara dan tetap menyimpan hormat kepada para pejuang yang mengorbankan banyak untuk kemerdekaan. Kakek Harry, Marah Roesli, adalah pujangga penulis roman Siti Nurbaya, yang menjadi masterpiece sepanjang zaman. Dan permintaan Harry Roesli sederhana saja: sebuah ruang untuk melancarkan kritik.

Kang Harry–begitu ia disapa–kini tinggal di Jalan W.R. Supratman, Bandung, di dua buah rumah berukuran besar yang tetap menjadi “pusat kesenian dan politik”. Ia menyebutnya “Depot Kreasi Seni Bandung”, sebuah arena diskusi, tempat pertunjukan seni, tempat mengobrol politik sejumlah anak muda dengan aneka latar belakang: dari anak jalanan hingga perempuan abege dengan rambut bercat warna-warni. “Rumah ini seperti sarang penjahat,” ujar Harry Roesli, santai.

Sehari-hari guru besar bidang musik di IKIP Bandung ini aktif mengajar anak jalanan bermain musik, dan menulis lagu. Bukan cuma itu. Belakangan, ia juga sibuk menjadi juri Akademi Fantasi Indosiar (AFI)–bahkan kemudian jadi bintang iklan satu produk makanan–yang bikin heboh itu. Pekan lalu, wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Harry, membicarakan bermacam topik, di rumahnya di Bandung. Berikut ini kutipannya.

Kita bicara soal politik dulu. Pemilu legislatif dan pemilu presiden tahap pertama baru berlalu. Ada yang menarik?

Meski tidak signifikan, dalam pemilu kali ini memang ada sebuah kemajuan. Kita lihat dalam pemilihan presiden, ternyata mesin politik tidak jalan. Para elite politik ngomong apa, di bawah cuek-cuek saja. Nah, sikap cuek itu sebuah kemajuan. Dulu orang bersikap golput dibilang subversif. Sekarang golput tak apa-apa. Kalau merasa tidak ada pilihan, tak usah dipaksa. Secara moral, itu sebuah kemajuan. Selain itu, sekarang juga tak ada yang mati karena perkelahian antar-pendukung partai. Dulu, zaman Soeharto, banyak yang mati karena elitenya yang tukang mengadu domba.

Itu memang kemajuan, tapi lantas Golkar ternyata menang. Bukankah ini berarti kemenangan Orde Baru?

Rakyat tak ingin Orde Baru. Kemenangan ini semata-mata faktor pendidikan yang belum merata. Rakyat tak tahu politik. Mereka tak tahu Golkar. Selain itu, kemenangan Golkar juga diakibatkan kegagalan PDI Perjuangan. Megawati gagal mengambil hati, gagal memenuhi janji, dan gagal menangkap aspirasi konstituennya. Dengan menyebut PDIP sebagai partainya wong cilik, Megawati telah blunder. Soalnya, dia tidak pernah menyentuh wong cilik. Mega malah dibilang pro-wong licik.

Anda punya bukti?

Saya bergaul dengan 36 ribu anak jalanan di Kota Bandung. Tadinya mereka tanpa pamrih mendukung PDI Perjuangan mati-matian. Sekarang mereka banyak yang lari ke Golkar. Bagi mereka, yang penting asal bukan Mega, bukan militer, dan bukan agamis.

Adakah kemenangan SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) barusan sama dengan kemenangan militer?

Ah, itu tidak berarti militer akan kembali berkuasa. Ini semata-mata faktor SBY yang dianiaya. Orang kita selalu berempati pada orang yang teraniaya. Lihat saja si Veri, yang menang di Akademi Fantasi Indosiar (AFI) 1. Veri menang karena dia anak seorang tukang becak, meski tak bisa menyanyi. Nah, SBY diuntungkan dengan penganiayaan yang dialaminya. Tapi tentu penganiayaan itu juga harus didukung dengan bahasa tubuh yang bagus. Lihat saja Sri Bintang Pamungkas, yang sangat teraniaya, tapi karena bahasa tubuhnya jelek jadi tidak naik-naik.

Sebenarnya Anda sendiri mencoblos apa, sih?

Saya tidak nyoblos saat pemilu legislatif dan presiden. Saya tidak mendapat kartu pemilih. Tapi alasan yang paling tepat adalah saya malas. Saya bukan golput, tapi malas. Saya boleh tidak menggunakan hak politik tersebut. Tidak berdosa. Soal presiden yang bakal terpilih, saya tak peduli. Saya tidak pernah berurusan dan bergantung pada birokrasi. Mereka tak punya duit, kok. Saya berurusan dengan birokrasi mungkin hanya saat membuat KTP.

Saat ini sedang marak “silaturahmi politik” kelas tinggi. Apa pendapat Anda?

Itu membuat rakyat bingung. Kita yang tidak tahu fatsoen politik jadi merasa dikibulin. Bayangkan, ada orang yang tadinya memilih PDI Perjuangan karena tidak suka dengan Golkar. Eh, sekarang PDI Perjuangannya malah berkoalisi dengan Golkar. Jadi, rakyat cuma dikibulin elite politik.

Kita merayakan Hari Kemerdekaan 17 Agustus. Benarkah kita telah merdeka?

Dalam pembukaan UUD 45 disebut “menghantarkan rakyat ke pintu gerbang kemerdekaan”. Nah, akibatnya, sampai sekarang kita hanya sampai pintu gerbangnya saja, padahal pintu gerbang itu sekarang masih ditutup. Buktinya, banyak orang yang belum merdeka karena tak punya kebebasan memilih. Anak-anak sekarang, dalam bersekolah dan bekerja pun tak bisa memilih. Artinya, mereka belum merdeka. Di Negeri Belanda, ide itu sudah diterapkan. Mereka betul-betul bebas memilih.

Jadi, Anda menganggap peringatan itu hanya seremonial?

Seremonial itu juga perlu. Dulu banyak pejuang yang betul-betul berkorban untuk 17 Agustus 1945 itu. Ada perjuangan fisik dan diplomatik. Jadi, kita tidak boleh ahistoris. Tapi perayaan itu harus dengan perenungan.

Apakah Anda merasa sebagai manusia merdeka?

Dibandingkan dengan zaman Soeharto, saya merasa lebih merdeka. Di masa Orde Baru, saya tiga kali dipenjara (tahun 1971, 1974, dan 1978). Bahkan, tahun 1978, akibatnya saya harus keluar dari negara ini karena di-persona-nongrata-kan. Saya pergi ke Belanda. Hal-hal seperti itu sekarang tak terjadi lagi.

Bagaimana Anda mendidik dua anak Anda? Anda memerdekakan mereka?

Saya tidak pernah mengajari atau menasihati mereka. Tapi, alhamdulillah, mereka anti-hedonisme. Mereka tidak mau memakai mobil dan handphone yang saya belikan. Mereka juga tak mau masuk mal. Selama itu tidak memusingkan saya, itu bagus. Saya tak tahu siapa yang ngajarin mereka. Mereka bilang “malu” memakai mobil dan HP. Padahal sebetulnya saya ingin mereka punya HP agar bisa mengecek keberadaan mereka.

Sekarang kita bicara musik. Anda dikenal sebagai “seniman kontemporer”. Mengapa Anda memilih aliran yang tak populer itu?

Sejak kecil saya dianggap sebagai jeger (bahasa Sunda yang berarti jagoan–Red.). Semua anak perempuan takut pada saya. Itu watak dasar saya. Kemudian, pada tahun 1971 saya ditangkap dan dipenjara tiga bulan gara-gara demo soal TMII. Padahal saya cuma ikut-ikutan sampai ke Cendana. Saya dikomporin oleh orang-orang kurang ajar seperti Arief Budiman, W.S. Rendra, dan Cosmas Batubara. Di dalam tahanan, saya disiksa, disetrum, dan tiap pagi dikencingi anggota CPM. Meski ayah saya Komandan CPM, dia tak menolong saya.

Apa pengaruhnya?

Itu sangat berpengaruh pada diri saya. Orang seusia saya jika disiksa bukan jadi takut, tapi malah jadi dendam. Sejak itulah di otak yang ada hanya persoalan sosial, tidak ada kesenian. Memang saya menggunakan musik karena itu medium yang terdekat.

Anda sangat dendam karena siksaan aparat militer. Tapi Anda dihidupi oleh bapak Anda, yang seorang tentarac.

Saya tidak merasa dihidupi oleh tentara. Ibu saya lebih kaya dari bapak saya. Memang saya pernah menerima uang saku dari bapak. Tapi itu bukan salah saya. Saya tidak bisa memilih sperma bapak, juga tak bisa memilih rahim ibu.

Musik Anda sangat segmented. Anda merasa hidup dari musik?

Sejak kecil kehidupan ekonomi saya sudah mapan. Jadi, saya bermain musik bukan untuk mencari uang. Kalau bikin musik dan tidak laku, tidak apa-apa. Juga tidak berkeinginan jadi terkenal. Bahwa sekarang beken, itu bukan urusan saya. Tapi, kepada para mahasiswa, saya tekankan agar mereka punya banyak peluru. Memang saya bikin sendiri silabus mengajar itu. Kurikulum saya memerdekakan pilihan. Selama ini tak ada protes, karena saya tak ada saingan. Jadi, orang enggak ngerti saya benar atau salah.

Mengapa karya musik Anda sangat susah dipahami?

Ya, karena sangat personal. Hanya orang yang sangat dekat saja yang tahu ceritanya. Lagu itu merupakan anak batin saya. Ada beberapa lagu saya yang berlirik, tapi tetap tidak punya arti. Saya menekankan pada unsur bunyi. Pernah ada seorang mahasiswa dari Universitas Tokyo, Jepang, membuat skripsi tentang lagu saya. Ketika saya bilang lirik lagu saya tak berarti, dia memprotes. “Harus ada, Pak. Saya sudah jauh-jauh dari Jepang,” katanya. Selain itu juga ada mahasiswa Unpad yang sampai terganggu jiwanya gara-gara membuat skripsi soal lirik lagu saya. Sampai sekarang, mahasiswa yang namanya Yudi D.R. itu masuk rumah sakit jiwa.

Mengapa Anda tak membuat lirik yang bermakna? Terbelenggu?

Benar. Saya merasa lirik dan komposisi lagu sangat membelenggu. Ada komposer yang ingin menggambarkan kemacetan lalu-lintas dengan suara terompet. Bagi saya, itu tak memuaskan karena sangat artifisial. Kalau saya, lebih baik mobil dan motornya saja dinaikkan ke atas panggung.

Anda sempat tersandung pelesetan lagu Garuda Pancasila. Kapok?

Saya menyanyikannya di rumah Gus Dur di Ciganjur saat beliau turun dari presiden. Bagi saya, kasus itu tak membuat kapok. Malah saya senang karena selama dua bulan tampang saya nongol di TV. Kalau harus bayar iklan, itu butuh ratusan juta. Memang ada pro-kontra. Ada yang mati-matian menjadikan saya pahlawan seperti mahasiswa Institut Teknologi Medan (ITM). Tapi, setelah dari kampus ITM, tiba-tiba seorang ibu muda dari balik mobil Mercy berteriak: “Kamu Harry Roesli? Saya benci kamu. Garuda Pancasila kok dipelesetkan!”

Anda merasa bersalah?

Sebetulnya lagu Garuda Pancasila yang saya nyanyikan bukanlah pelesetan. Itu gubahan yang bagus. Itu sebuah kritik. Kita jangan anti-kritik, dong. (Harry Roesli kemudian menyanyikannya kembali: Garuda Pancasila aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmuc.)

Anda sekarang jadi juri Akademi Fantasi Indosiar (AFI). Apa yang menarik perhatian Anda?

Ada unsur yang melibatkan publik. Juri tak jadi dewa-dewa lagi. Selain itu, AFI membuat pemberdayaan seni vokal. Tiba-tiba ada diskusi di masyarakat soal AFI. Publik merasa dilibatkan. Sedangkan proses di dalam yang menarik adalah semangat kritik. Peserta dikritik secara terbuka. Membiasakan diri dengan kritik merupakan sikap yang bagus.

Mengapa AFI sangat sukses membetot pemirsa?

Strategi dagangnya pintar. Ada kompornya setiap hari. Semua orang sampai tahu latar belakang si peserta. Soal kualitas musikalitas, itu soal lain. Kita tak bisa mengukur keberhasilan para penyanyi saat ini, karena AFI hanyalah kontes popularitas, bukan kontes menyanyi. Nah, soal kemampuan menyanyi, nanti waktu yang akan menentukan. Memang waktunya instan. Tapi mereka tak terlalu instan karena pesaingnya ribuan orang.

Anda punya seabrek kegiatan. Mengapa masih sempat mengurus anak jalanan?

Kalau mau gagah-gagahan, itu memang tanggung jawab kita. Di Kota Bandung, ada 36 ribu anak jalanan. Yang dapat kami sentuh baru sekitar 3.000. Selama ini mereka menganggap mencuri adalah cara untuk survive, sodomi sebagai silaturahmi, dan mabuk sebagai bersosialisasi. Kami ingin menarik mereka dari jalanan. Mereka kami ajari musik. Kebetulan mereka ingin meningkatkan apresiasi ke musik. Setiap bulan saya mengeluarkan uang untuk menggaji instruktur. Mungkin sekitar Rp 20 juta per bulan.

Apakah Anda tidak merasa terlalu tua untuk mengurusi anak-anak jalanan itu?

Memang, kalau ketemu anak-anak, suka ada yang bilangin saya sudah tua. Para seniman yang lain juga bilang saya sudah tua. Kalau ketemu Ria Irawan di diskotek, dia bilang, “Udah tua lu, Babehc!”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: