KENANGAN YANG TERSIMPAN DI MEMPHIS

TERPAMPANG di dinding Museum Stax, kalimat itu seolah melempar kita ke empat ratus tahun silam, saat musik menjadi “alat pembebasan” budak kulit hitam di Memphis. Lewat musik, terutama jenis blues yang menyayat hati, mereka berusaha mengusir kesedihan sambil menabur mimpi. Semua jejak perjalanan musik ini terekam rapi dalam Museum Stax.

Museum yang terletak di 926 East McLemore Avenue itu kini menjadi salah satu ikon penting Kota Memphis, Tennessee\sebuah negara bagian Amerika Serikat yang mayoritas penduduknya beretnis Afrika-Amerika. Karena itu, ketika melawat ke kota ini dua pekan lalu, Tempo amat tertarik menengok museum yang didirikan pada 1958 itu.

Dengan tiket masuk US$ 10 (sekitar Rp 90 ribu) kita dapat menyusuri pojok-pojok sejarah musik Amerika. Mula-mula para pengunjung disuguhi tayangan film perjalanan musik Amerika selama 45 menit. Beberapa legenda musik Amerika seperti B.B. King dan Buddy Guy diabadikan secara kronologis. Digambarkan pula saat mereka masih belum terkenal dan harus mengasong suara dan keterampilan dari satu panggung ke panggung lain.

Museum ini juga dipenuhi atribut dan alat musik bekas musisi ternama. Willie Dixon, legenda musik blues yang lahir pada 1915, misalnya, meninggalkan gitar bas dan terompet kesayangannya. Penyanyi yang menulis lagu Little Red Rooster dan You Shock Me (beberapa di antaranya dirilis ulang oleh kelompok The Rolling Stones, Aerosmith, dan Led Zep-pelin) ini meninggal pada 1992. Segala kiprah Dixon ketika berjaya kini terukir di museum itu. “Kami berusaha membuat tokoh musik Amerika tak hanya jadi sampah sejarah,” ujar Mark Willis, Direktur Museum Stax.

Orang Memphis amat menghargai pemusik dan penyanyi. Jangan heran jika Graceland, bekas rumah Elvis Presley yang telah disulap menjadi museum, juga amat mereka banggakan. Apalagi penyanyi legendaris ini berasal dari Kota Memphis, yang sekarang berpenduduk sekitar 700 jiwa. Seperti Museum Stax, rumah yang terletak di 3734 Elvis Presley Boulevard itu juga menjadi magnet yang menyedot puluhan ribu turis setiap tahunnya.

Untuk menjangkau Graceland tidaklah sulit. Pengunjung cukup membayar tiket terusan US$ 27 (sekitar Rp 250 ribu), tiket yang terbilang mahal untuk museum di Amerika. Mereka lalu diantar dengan shuttle bus menuju ke sana.

Di museum itu pengunjung diperbolehkan memotret semua isinya. “Tapi jangan sekali-kali memakai flash,” kata seorang pemandu. Agar dapat mengenali setiap pojok rumah, setiap pengunjung dibekali peralatan audio yang menerangkan detail dan sejarah setiap ruang dan barang koleksi Elvis. Suara merdu Elvis dalam peralatan audio menghanyutkan pengunjung ke masa-masa kejayaan penyanyi ini.

Tengok pula ruang tamunya. Suasana ruang model tahun 1970-an sangat terasa. Di sana ada satu set sofa, lampu kristal, pernak-pernik antik, dan foto Elvis berukuran 1×1 meter. Semua tertata rapi, seperti saat Elvis masih hidup. “Tak ada perubahan tata letak. Semua masih asli,” ujar Danielle Schulzt, manajer Graceland.

Dari ruang tamu, kita menapaki anak tangga menuju ruang tengah. Pelbagai perlengkapan pribadi, seperti piano klasik, koleksi senjata, hingga kamar tidur pribadi yang berlapis beludru, masih tertata dengan baik. Yang menarik, ada ruang khusus untuk menyimpan puluhan baju panggung Elvis Presley yang khas itu. Baju-baju dengan model yang serupa dipasang pada boneka torso yang unik.

Masuk ke sebuah ruang khusus, kita bisa melihat koleksi mobil Elvis. Sebanyak 27 mobil\antara lain bermerek Cadillac, Rolls-Royce, BMW, Mercy, dan Jaguar\disusun rapi dan semuanya masih mengkilap. Beberapa dari koleksi mobil ini sesekali masih turun ke jalan-jalan Kota Memphis. Di ruang itu pula empat koleksi motor Harley Davidson dipamerkan kepada pengunjung.

Yang tak kalah menarik, koleksi pesawat terbang pribadi sang legendaris. Semasa jayanya, penyanyi yang lahir pada 1935 ini memiliki dua pesawat yang siap membawanya ke lokasi pertunjuk-an. Saat itu Elvis adalah satu-satunya penyanyi yang memiliki pesawat pri-badi. Dia punya dua pesawat: tipe Convair 880 dan Jetstar N777EP. Pesawat tipe Convair 880 yang diberi nama “Lisa Presley” ini dilengkapi ruang rapat dan ruang tidur pribadi dengan ranjang berukuran 2×3 meter. Di ruang tidur ini terdapat sebuah pesawat televisi, pemutar piringan hitam, dan kulkas. Dengan pesawat inilah Elvis pergi dari kota ke kota untuk menghibur penggemarnya. Adapun Jetstar, pesawat jet yang berukuran lebih kecil, digunakan untuk keperluan khusus, misalnya mendatangi tempat yang tak terjangkau pesawat berbadan besar.

Pesawat pribadi Elvis juga kerap dipakai buat keperluan di luar pertunjukan. Bahkan Dick Richard, bekas pilot pribadi Elvis, mengungkap ia kerap diminta menerbangkan pesawat ke sebuah kota untuk urusan sepele. “Kami pernah terbang dari Memphis ke New York untuk membeli kacang goreng,” tutur Dick Richard.

Kedua pesawat tersebut semula dititipkan di hanggar Bandara Memphis. Namun sejak 1980 pengelola Graceland membawanya ke museum. Saat memasuki pesawat, pengunjung harus menunjukkan boarding pass ala Graceland. Awak pesawat seolah siap mengantar kita ke tempat tujuan.

Setelah puas berkeliling Graceland selama dua jam, pengunjung juga diberi kesempatan berziarah ke makam Elvis di pojok samping rumah. Sebelum meninggal pada 16 Agustus 1977, Elvis memang berwasiat agar dirinya dimakamkan di Graceland. Di atas makamnya terdapat lima batang lilin yang selalu menyala.

Kendati telah lama meninggal, Elvis Presley dan musisi asal Memphis yang lain, seolah masih menjadi roh kota ini. Warga Memphis memang amat menyukai musik. Di jalan-jalan, tak seperti kota lain di Amerika, anak-anak muda kerap menari sambil menirukan lagu dari tape mobil. Mereka melawan dingin malam yang menusuk tulang dengan berjumpalitan diiringi dentuman musik. “Daripada berperang, lebih baik bernyanyi,” ujar Alex Montgomery, 19 tahun, seorang pemuda Memphis.

Gereja-gereja di kota itu juga sangat menonjolkan musik dalam acara kebaktian. Tempo sempat mengikuti kebaktian mingguan di Gereja Baptist Monumental, di 704 S Parkway E, Memphis. Berlangsung selama dua jam, kebaktian yang dipenuhi warga Kristen berkulit hitam itu laksana konser musik. Khotbah Pendeta Billy Kyles diiringi paduan suara yang sungguh bersemangat. Kelompok penyanyi gereja mampu membawakan lagu-lagu pujian dengan melompat setengah oktaf berkali-kali hingga nada tertinggi.

Kebaktian di gereja itu selalu diwarnai dengan adegan penyanyi yang “ekstase”. Mereka selalu menyanyikan lagu-lagu rohani dengan penuh semangat dan aksi panggung yang lincah. Beberapa penyanyi bahkan sampai tak sadarkan diri, larut dalam nyanyian. Mereka terus bernyanyi, meski iringan musik telah selesai. Aksi ini baru berhenti setelah petugas gereja senior menggotong para penyanyi yang ekstase itu. Dengan trik dan doa tertentu, mereka akan dikembalikan ke alam sadar.

Bagi Pendeta Billy Kyles, musik rupanya tak sekadar ekspresi kesedihan, harapan, dan mimpi seperti kalimat yang terukir di tembok Museum Stax. Lagu dan musik bisa jadi sarana mencapai Tuhan. “Musik dapat mengantar roh manusia ke langit,” katanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: