Mengejar Tiket Impian

WAJAH Sutrisno Wibowo, 38 tahun, terlihat masygul. Warga Perumahan Bumi Anggrek, Bekasi, ini pekan lalu berburu tiket di Pusat Reservasi Tiket Kereta Api Juanda, Jakarta. Rencananya, Sutrisno akan berlebaran bersama keluarga di Jatingaleh, Semarang. Tapi semua tiket kereta api Argo Muria jurusan Jakarta-Semarang telah ludes. Sutrisno pusing tujuh keliling. Soalnya, bagi ayah dua anak ini, momen berlebaran di kampung kali ini sangat penting. “Bapak saya di kampung sudah sakit-sakitan,” ujarnya.

Sejurus kemudian, seorang lelaki perlente mendekati Sutrisno. Lelaki yang mengaku bernama Kamaludin itu menawarkan jasa baik. Kamaludin mengajak Sutrisno menjauhi keramaian. Setengah berbisik, Kamaludin mengaku bisa menyediakan empat tiket kereta api Argo Muria yang dibutuhkan Sutrisno. Ada beberapa pilihan hari dan jam keberangkatan. “Yang penting harganya cocok,” ujar Kamaludin. Seperti mendapat durian runtuh, Sutrisno menyambut tawaran itu dengan sumringah.

Tapi, kebahagiaan Sutrisno tak berumur panjang. Kamaludin hanya mau melepas tiket impian itu dengan harga Rp 500 ribu per tempat duduk. Padahal, tarif di loket resmi hanya Rp 250 ribu per tempat duduk. Tak ada tawar-menawar. Kamaludin tak beranjak dari harga yang ditawarkannya. “Ini Lebaran. Setoran buat orang dalam lebih besar,” ucap Kamaludin. Karena tak punya cukup uang, Sutrisno tak bisa membeli tiket impiannya. Harapan untuk berlebaran di tanah kelahiran, bersama bapaknya yang sakit-sakitan, sirna ditelan bumi.

Nasib nahas juga menimpa Sigit Waluyo, 29 tahun. Sigit, yang pekan lalu mencari tiket kereta api Argo Bromo Anggrek jurusan Jakarta-Surabaya, terpaksa gigit jari. Sigit mengaku terlambat mencari tiket kereta karena baru memutuskan berlebaran di rumah mertuanya di Kota Pahlawan itu. Tapi Sigit tak mendapat tiket yang dicari. “Tiket jurusan Surabaya sudah habis. Yang tersisa setelah Lebaran,” ujar petugas di loket.

Untunglah, “dewa penolong” segera datang. Seorang lelaki paruh baya menghampiri Sigit yang sedang galau. Lelaki itu menanyakan kota tujuan dan rencana tanggal keberangkatan. Dari balik jaketnya, ia menyodorkan selembar tiket untuk dua orang. Beberapa saat Sigit membolak-balik tiket untuk mengecek keasliannya. Setelah yakin itu bukan tiket bodong, Sigit terlibat tawar-menawar harga. Sigit akhirnya membayar dua tiket Argo Bromo Anggrek itu seharga Rp 950 ribu. Padahal, tarif yang tertera di tiket cuma Rp 600 ribu. “Saya tak punya pilihan,” ujar Sigit, “Semua tiket pesawat juga sudah ludes.”

Menghadapi maraknya percaloan, PT Kereta Api Indonesia mengaku tak tinggal diam. Direktur Operasi PT Kereta Api Gambir, Juda Sitepu, menyatakan telah melakukan beberapa langkah untuk membatasi ruang gerak para calo tiket. Pada Lebaran kali ini, misalnya, pemesanan tiket sudah dapat dilakukan 30 hari sebelum hari keberangkatan. Petugas loket diperintahkan sedapat mungkin mencetak satu tiket untuk empat penumpang. “Sistem ini menyulitkan kerja calo,” ujar Juda Sitepu. Agar lebih meyakinkan, sebuah spanduk besar digelar di Stasiun Gambir, Jakarta. Isinya: hadiah Rp 200 ribu bagi siapa saja yang berhasil menangkap calo. Bila calo yang ditangkap adalah “orang dalam”, hadiahnya menjadi Rp 500 ribu. Juda Sitepu memang tak memungkiri kemungkinan keterlibatan kawan sejawatnya. Tahun lalu, kata Sitepu, PT KAI memecat dua pegawainya karena terbukti terlibat praktek percaloan tiket selama Lebaran.

Tapi, hasil pemantauan Tempo di lapangan tak menunjukkan hasil yang menggembirakan. Memang sistem pencetakan satu tiket untuk empat penumpang mempersulit calo. Soalnya, tak semua penumpang kereta membeli empat tempat duduk. Nah, biasanya para calolah yang mencarikan teman yang memiliki tujuan yang sama. “Musim Lebaran tak sulit mencari kelompok orang yang tujuannya sama,” ujar seorang calo kepada Tempo. Selain itu, ternyata tak semua tiket dicetak untuk empat penumpang.

Yang menarik, sistem pemesanan tiket 30 hari sebelum keberangkatan justru membuat praktek percaloan tumbuh subur. Persoalannya sebenarnya sangat sederhana. Tak banyak pemudik yang sudah tahu secara pasti hari dan jam keberangkatan untuk 30 hari ke depan. Padahal, semua tiket untuk bulan depan sudah bisa dibeli. “Tiket untuk hari-hari menjelang Lebaran telah lama diborong calo,” ujar Sutrisno, calon penumpang kereta api.

Kamaludin, seorang calo yang beroperasi di Pusat Reservasi Tiket Juanda dan Stasiun Gambir, mengaku tak kesulitan saat beroperasi. Memang, gencarnya kampanye “anti-percaloan” membuat Kamaludin tak bisa beraksi terlalu terbuka. “Enggak enak dengan bapak-bapak di dalam. Kita harus menjaga wibawa mereka,” ujarnya.

Kamaludin, yang telah empat tahun berprofesi sebagai calo tiket kereta api, mengaku mendapat keuntungan lumayan. Ia mengkoordinasikan beberapa calo lain di Stasiun Gambir dan Juanda, Jakarta. Sebagai seorang pemain yang cukup disegani, Kamaludin mengaku mengeluarkan modal cukup besar. Untuk Lebaran 2004, misalnya, warga Sawah Besar ini menyiapkan modal sekitar Rp 40 juta. Selama Lebaran, Kamaludin memperkirakan dapat meraup keuntungan bersih hingga 75 persen.

Bagaimana dengan pasokan tiket? Tak masalah. Kamaludin mengaku memiliki saudara yang bekerja di Bagian Pusat Pemesanan Tiket Kereta Api Juanda. Selain itu, ia juga memanfaatkan para pedagang asongan untuk mengantre membeli tiket. “Anak-anak yang mengantre saya beri Rp 10 ribu,” ujarnya.

Kamaludin serta calo kereta api lainnya memang memiliki lahan yang subur. Jumlah pemudik Lebaran tahun ini mencapai 17,6 juta orang, meningkat 11 persen dari Lebaran tahun lalu. Sedangkan yang akan menggunakan jasa kereta api mencapai 3,1 juta orang–tiga kali lipat dari kapasitas tempat duduk yang bisa disediakan oleh PT Kereta Api Indonesia. “Selama permintaan dan penawaran tak sebanding, akan selalu ada praktek calo,” ujar Menteri Perhubungan Hatta Radjasa.

Persaingan mendapatkan tiket yang lebih sengit sebenarnya di angkutan udara. Soalnya, moda transportasi udara mengalami lonjakan penumpang terbesar. Kondisi ini disebabkan “perang tarif” antar-maskapai penerbangan yang masih berlangsung. Pada Lebaran ini, tiket pesawat yang terjual mencapai 2,7 juta tempat duduk. Itu berarti mengalami lonjakan 35 persen. Tapi, jumlah itu masih jauh di bawah permintaan pasar yang selama H-7 sampai H+7 mencapai sekitar 5 juta tempat duduk. Walhasil, hampir semua tiket pesawat selama Lebaran telah ludes diserbu calon penumpang. Garuda, misalnya, mengaku tak memiliki sisa seat. Soal calo? Pudjobroto, Pejabat Humas Garuda, menyatakan tak terlalu khawatir. “Garuda akan mengecek kesesuaian identitas penumpang dengan nama yang tertera di tiket,” kata Pudjobroto. Tapi, anehnya, Pudjobroto tak memastikan tindakan yang akan dilakukan jika terdapat perbedaan identitas calon penumpang dengan nama yang tertera di tiket. Bisa jadi, calon penumpang tetap bisa berangkat mudik.

Ketua Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), Indah Suksmaningsih, menilai praktek percaloan–baik untuk tiket kereta, pesawat, maupun kapal laut–masih menghantui para pemudik. Indah mengakui lonjakan permintaan tiket memang menjadi penyebab dasar munculnya percaloan. Tapi, Indah menilai pemerintah dan operator jasa angkutan Lebaran tak sungguh-sungguh dalam memberantas calo. Buktinya, masih kerap ditemui keterlibatan “orang dalam” yang menambah marak praktek yang membuat para pemudik merogoh kocek dalam-dalam itu. “Kalau tak ada kerja sama, tak mungkin calo berkeliaran bebas,” ujar Indah Suksmaningsih.

Menjawab tudingan YLKI, Menteri Perhubungan Hatta Radjasa mengaku tak bisa bekerja sendirian untuk memberantas calo. Peliknya persoalan–pengangguran, sistem penjualan tiket, dan mental para pegawai penyedia jasa angkutan–membuat praktek percaloan tumbuh subur. “Siapa saya ini?” ujar Hatta Radjasa, “Tak mungkin vini-vidi-vici memberantas calo tiket.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: