Nabiel Makarim: “Pelaku Pencemaran Teluk Buyat Harus Diadili”

RUMAH Dinas Menteri Nabiel Makarim, 59 tahun, di Jalan Den pasar, Jakarta, pekan lalu terlihat ramai. Tak seperti biasanya, beberapa staf ahli tampak sibuk mengumpulkan dan menganalisis data penting. Di sudut lain terlihat tim konsultan humas memelototi kliping berita soal pencemaran Teluk Buyat oleh PT Newmont. “Saya berpacu dengan kasus Teluk Buyat,” ujar Nabiel Makarim, Menteri Negara Lingkungan Hidup.

Nabiel memang tengah dirundung persoalan berat. Setelah beberapa waktu lalu dia menyatakan “tak ada pencemaran” di Teluk Buyat, Minahasa, sebuah pukulan telak datang dari Universitas Indonesia. Dr. Budiawan, Kepala Pusat Kajian Risiko dan Keselamatan Lingkungan UI, memastikan kandungan merkuri dalam sampel darah warga Teluk Buyat di atas ambang normal. Buntutnya, Lembaga Bantuan Hukum Kesehatan melaporkan Nabiel Makarim (bersama Menteri Kesehatan Achmad Suyudi serta Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Purnomo Yusgiantoro) ke polisi. Ketiga anggota kabinet itu dianggap melakukan kebohongan soal pencemaran di Teluk Buyat.

Apa yang terjadi di Teluk Buyat? Apakah “Tragedi Minamata” kini menimpa warga Teluk Buyat? Benarkah pemerintah melindungi pertambangan emas PT Newmont? Untuk menjawab pelbagai pertanyaan tersebut, wartawan TEMPO Setiyardi, Wenseslaus Manggut, dan Poernomo Gontha Ridho melakukan wawancara khusus dengan Nabiel Makarim. Selama dua jam wawancara di rumah dinasnya, Nabiel menjawab pertanyaan dengan kepulan asap rokok putihnya. Berikut ini kutipannya.

Laboratorium Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Indonesia memastikan merkuri dalam sampel darah warga Teluk Buyat melebihi ambang batas normal. Apa yang terjadi?

Sejak awal sudah saya katakan bahwa kami masih mencari informasi. Kita harus bisa menempatkan masalah ini tanpa praduga. Jangan mengambil kesimpulan terlalu dini. Sekarang kami lebih mementingkan nasib warga Teluk Buyat. Kita harus dapat mendiagnosis dengan tepat penyakit yang diderita warga Teluk Buyat agar tak salah mengobati. Langkah itu juga untuk menghindari agar tidak jatuh korban lebih banyak lagi.

Apa sikap pemerintah atas hasil uji sampel darah warga Teluk Buyat itu?

Pemerintah welcome sekali dengan hasil uji laboratorium UI. Kami akan mengeceknya. Bahkan dari awal saya memegang fakta ada sekitar 40 warga Teluk Buyat yang sakit dan banyak ikan yang benjol. Sekarang prioritas pertama kami adalah menyelamatkan manusianya. Penyebaran penyakit ini harus bisa dihentikan. Kemudian baru kami mencari tahu siapa yang bersalah dalam kasus ini. Kalau benar ada yang mencemarkan Teluk Buyat, kami akan mencari buktinya untuk diajukan ke pengadilan. Jika terbukti, pelaku pencemaran Teluk Buyat harus diadili. Kita harus mencegah agar hal seperti ini tidak terjadi lagi.

Apakah penyebabnya adalah kadar merkuri di laut yang melewati ambang normal atau akumulasi dari konsumsi ikan yang tercemar?

Keduanya berhubungan.

Ada dugaan kuat limbah pabrik Newmont Minahasa Raya menjadi penyebab peningkatan merkuri dalam darah warga Teluk Buyat. Bagaimana?

Arah pemberitaan media massa memang menyalahkan Newmont. Ada kesan seolah-olah pemerintah membela Newmont. Kalau sekarang saya bilang kami sedang “mengumpulkan informasi”, ini dianggap membela Newmont. Jangan khawatir, pemerintah tidak akan menutup-nutupi atau membelokkan persoalan. Tentu saja pemerintah juga tidak akan membesar-besarkan masalah.

Apakah pemerintah berani bersikap tegas terhadap Newmont? Bagaimana soal investasi asing?

Kalau memang Newmont terbukti bersalah, pemerintah akan bersikap tegas terhadapnya. Tentu saja kami harus mengumpulkan bukti yang sangat kuat agar, jika kasus ini ke pengadilan, kita bisa menang. Kalau kita tak siap, Newmont bisa menang di pengadilan dan tidak bisa lagi diadili untuk kasus yang sama.

Bukankah sudah ada bukti-bukti orang yang sakit dan ikan yang benjol?

Ya, sejak awal memang sudah saya tegaskan ada masalah. Namun kami belum tahu apa masalah sebenarnya.

Berapa lama waktu yang dibutuhkan untuk mengumpulkan bukti?

Secepatnya. Sekarang sudah ada hasil penelitian dari UI. Sebentar lagi akan ada hasil dari Departemen Kesehatan dan Kementerian Lingkungan Hidup. Kami mengumpulkan informasi dari kejadian ini dan pengalaman dari luar negeri. Saya sudah membentuk dua tim: tim pengarah dan tim teknis. Tim teknis berisi orang-orang dari pemerintah daerah, Kementerian Lingkungan Hidup, Departemen Kesehatan, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral, LSM Jatam, Wahana Lingkungan Hidup Indonesia, dan Newmont. Tim tersebut akan memberikan masukan kepada saya. Kemudian saya akan memberikan informasi kepada publik.

Bagaimana hasil studi analisis mengenai dampak lingkungan (amdal) Newmont Minahasa?

Sebagai persyaratan, saat Newmont akan membuat pertambangan di Minahasa pada 1994, dibuat studi amdalnya. Dari studi amdal diketahui bahwa kandungan merkuri dan arsen di daerah tersebut memang banyak. Air sumurnya ketika itu juga dinyatakan memenuhi baku mutu air minum Indonesia, dengan catatan kadar arsennya tinggi. Saat itu hanya ada empat kepala keluarga yang tinggal di Teluk Buyat dengan penyakit yang umum diderita adalah diare dan malaria. Dalam studi amdal itu memang tak disebutkan adanya penyakit kulit.

Apakah studi amdal tersebut dapat dipercaya?

Studi amdal tersebut valid dan disetujui pemerintah. Berdasarkan peraturan yang berlaku saat itu, yang menimbang dan memutuskan hasil studi amdal adalah departemen teknis, yakni dari Departemen Pertambangan dan Energi. Setelah itu, PT Newmont mulai melakukan operasi pengolahan, Maret 1996. Saat itu Menteri Lingkungan Hidup meminta semua limbah (tailing) harus diolah lebih dulu agar stabil. Dalam waktu enam bulan, PT Newmont harus menyerahkan environmental risk assessment (ERA). Sebelum enam bulan, Newmont mengeluarkan ERA, tapi ditolak oleh Kementerian Lingkungan Hidup. Metode sampling yang dilakukan Newmont dianggap tidak benar.

Apa kesalahan sampling yang dilakukan Newmont?

Mungkin lokasinya. Bisa juga soal jumlahnya.

Apakah itu berarti ada indikasi niat yang tidak benar?

(Nabiel terdiam dan terlihat berpikir–Red.) Saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Saya tidak tahu.

Apakah amdal PT Newmont setiap tahun diuji ulang?

Sesuai dengan persyaratan, seharusnya memang ada laporan periodik soal amdalnya. Setiap tahun harus diuji ulang untuk melihat tren kandungan logam beratnya. Tapi saya belum tahu datanya. (Nabiel kemudian memanggil seorang staf ahlinya untuk meminta data soal studi amdal tahunan PT Newmont. Tapi staf ahlinya menyatakan bahwa PT Newmont Minahasa tak memiliki studi amdal tahunan–Red.)

Setiap tahun PT Newmont membuang 2.000 ton limbah ke laut. Apakah ada jaminan mereka telah mengolah lim-bahnya?

Bisa saja limbah itu mencemari laut. Bisa jadi mereka tak mengolahnya sesuai dengan aturan. Kami tidak bisa mengecek selama 24 jam. Tapi, kalau mereka melakukan kecurangan, akan terlihat. Itu yang harus kami buktikan. Bila terjadi permainan, itu risiko mereka. Memang, saat menjadi konsultan, saya sering menemukan pabrik yang tidak menjalankan pengolahan limbahnya. Bila akan diinspeksi, baru mereka menjalankan pengolahan limbahnya. Tentu saja saya tahu karena saya adalah desainer pengolahan limbah.

Berapa biaya untuk mengolah tailing PT Newmont menjadi stabil dan tak berbahaya?

Saya tidak tahu. Saya juga tidak mau bertanya kepada mereka soal biaya itu. Soalnya, kalau ditanya, jawabannya pasti “mahal”.

Anda baru kembali dari Teluk Buyat. Apa yang Anda temukan?

Saya tidak menyangka saat ini ada konflik antarpenduduk desa. Kita bisa melihatnya sebagai konflik antara penduduk “yang dibayar Newmont” dan penduduk “yang tidak dibayar Newmont”. Kita juga bisa mengatakan konflik antara penduduk “yang dipengaruhi LSM” dan mereka yang independen. Yang pasti, ada konflik dan perpecahan yang sangat dalam. Saya sangat prihatin. Saya meminta agar mereka berdamai jika ingin kasus ini segera selesai. Mereka akhirnya bersalaman dan berpelukan. Saya akan memonitor terus.

Mengapa saat demonstrasi makan ikan di Teluk Buyat Anda menolak memakan ikan yang disajikan?

Dari awal sudah saya katakan ada orang yang sakit dan ada ikan yang sakit. Masa, saya disuruh makan ikan yang sakit? Nah, yang keluar di pemberitaan koran, “Ikan tidak tercemar, Nabiel tidak mau makan.” Itu berita yang ditekuk. Padahal, kalau saya mau aksi, bisa saja saya memakannya. Soalnya, kalau cuma makan sekali, tidak akan berpengaruh apa-apa.

Gara-gara kasus Teluk Buyat, Anda makin dimusuhi kalangan lembaga swadaya masyarakat. Bagaimana?

Tidak apa-apa. Saya harus bergerak dengan kenyataan itu. Pada waktu para korban dari Teluk Buyat ada di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo, saya langsung mencoba menemui mereka. Entah mengapa, mereka tergesa-gesa meninggalkan RSCM. Saya melihat korban yang ada di mobil. Saya ingin menemuinya, tapi dihalang-halangi oleh orang. Masa, sebagai menteri, saya harus berkelahi di tempat parkir rumah sakit? Dari sini jelas sekali ada yang tak ingin saya menemui para korban tersebut. Saya tak tahu alasan mereka.

Aktivis LSM kecewa karena sebelumnya Anda menyebutkan tak ada pencemaran di Teluk Buyat…?

Saya tetap menyatakan bahwa (tak ada pencemaran) itu betul. Soalnya, kami menguji lautnya. Yang diuji oleh Universitas Indonesia saat ini adalah darah warga Teluk Buyat. Hasilnya bisa berbeda. Kalau LSM tak puas dan curiga, datanglah ke saya untuk bertanya. Saya akan menjelaskan semuanya. Saya bekerja di sektor lingkungan hidup sejak 1971. Mana mungkin di akhir karier saya mau bermain-main?

Anda pernah menerima uang dari Newmont?

Saya bersumpah tidak pernah menerima uang dari Newmont. Perusahaan Amerika tidak mudah mengeluarkan uang yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. Orang juga menyebutkan saya menyetor uang ke PDI Perjuangan. Padahal saya tidak pernah melakukannya. (Nabiel mengajak TEMPO bersalaman untuk memperkuat “sumpahnya”–Red.)

Apakah setelah kasus ini mencuat, pihak Newmont menemui Anda?

Pemimpin Newmont, Richard B. Ness, tiga kali menemui saya. Saya yang memanggilnya. Saya bertemu di rumah dan di kantor. Soal tempat pertemuan, itu tergantung keadaan.

Apakah dalam pertemuan itu Newmont mengaku tak ada pencemaran?

Tanyakan langsung ke mereka. Itu persoalan mereka.

Ini soal lain. Mengapa dalam proyek Ladia Galaska di Aceh Anda disingkirkan dari kabinet?

Saya memang menentang habis-habisan proyek tersebut. Saya sudah memberikan alternatifnya. (Nabiel kemudian bercerita panjang-lebar soal pertentangan dan konflik kepentingan politik dalam megaproyek yang menelan dana triliunan rupiah itu. Sayang, Nabiel meminta semua jawabannya bersifat off the record. “Saya tak mungkin membukanya sekarang,” ujar Nabiel–Red.)

Anda juga “gagal” dalam hal peraturan pemerintah pengganti undang-undang (perpu) soal tambang di hutan lindung. Bagaimana?

Dalam soal ini, saya bahkan datang pada rapat-rapat menteri yang tidak melibatkan saya. Saya terpaksa nyelonong masuk karena ini menyangkut lingkungan hidup. Tapi, dalam soal lingkungan, kami tak mungkin terus-menerus menang.

Mengapa Anda tidak dilibatkan dalam rapat menteri yang menyangkut bidang Anda?

Terserah mereka. Kenyataannya, saya tidak diundang dan tidak dilibatkan. Pada saat penandatanganan perpu tersebut, saya juga tidak hadir. Saya kemudian menyebutnya “kecelakaan sejarah”.

Benarkah perpu tersebut lahir karena ada kepentingan PDI Perjuangan?

Orang bilang begitu. Tapi itu bukan urusan saya. Presiden Megawati tidak pernah bilang itu kepada saya. Bagaimanapun, perpu adalah proses pengambilan keputusan yang merupakan fungsi kekuatan politik. Dalam hal ini, kalau kita kuat, akan banyak berhasilnya.

Bila merasa ditinggalkan, mengapa Anda tak mengundurkan diri dari kabinet?

Saya ingat sewaktu Wakil Presiden M. Hatta mengundurkan diri. Menurut saya, bila Hatta tak mengundurkan diri, peristiwa G30S-PKI mungkin tak akan terjadi. Jadi, memang lebih baik mengubah dari dalam. Memang tak semuanya bisa saya lakukan. Saya punya banyak data soal beking-beking illegal logging. Saya masih menyimpan data tersebut dengan baik. Tapi saya sangat kesulitan untuk membuktikannya. Kita tidak mungkin mendapatkan tanda terima setoran uang dari pelaku kepada para beking.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: