Operasi Aceh Raksasa Terapung

SEMBURAT matahari baru muncul di ufuk timur Samudra Hindia. Tapi deru sepuluh helikopter Saberhawk di kapal induk USS Abraham Lincoln mulai memekakkan telinga. Pilot, awak heli, dan petugas landasan bergegas bekerja. Puluhan kotak makanan, minuman, dan obat-obatan diangkut ke dalam heli yang siap tinggal landas. Setelah mendapat lampu hijau, pilot Kevin Ferguson, 37 tahun, beraksi. “Take off position,” ujar Kevin Ferguson. Selasa pekan lalu, Kevin mengangkut puluhan kotak logistik itu ke Meulaboh, di pantai barat Aceh.

Bantuan itu jelas ditujukan untuk korban gempa dan tsunami yang sudah menewaskan lebih dari 101 ribu orang. Dahsyatnya bencana itulah yang membuat kapal induk USS Abraham Lincoln merapat ke Pantai Meulaboh. Sejak Minggu dua pekan lalu, 5.000 anggota pasukan Amerika Serikat di kapal induk\terdiri dari pilot, awak pesawat, tim medis, dan awak kapal\melakukan operasi khusus di Aceh. Mereka menjadi bagian dari tim yang masuk Aceh untuk misi kemanusiaan internasional. “Saya belum pernah melihat kehancuran seperti di Aceh,” ujar Kevin Ferguson, “Mayat di mana-mana.”

Bagi warga Aceh korban gempa dan tsunami, kapal USS Abraham Lincoln bagaikan malaikat penolong. Soalnya, kawasan di pantai barat Aceh hingga seminggu pasca-gempa tanggal 26 Desember 2004 masih terisolasi. Daerah Meulaboh, Calang, dan Tapaktuan tak dapat dijangkau lewat darat. Padahal, puluhan ribu korban gempa dan tsunami yang selamat dan luka berpacu dengan waktu. Keterlambatan membuat nyawa mereka terancam.

Situasi darurat membuat seluruh awak Abraham Lincoln bekerja ekstra. Setiap hari ada sekitar 60 penerbangan helikopter. Selain mengirim logistik, helikopter juga mengangkut ratusan korban yang sakit parah dari daerah bencana ke Banda Aceh dan Medan. Seluruh heli baru kembali ke landasan kapal saat matahari tenggelam di ufuk barat. Komandan kapal induk USS Abraham Lincoln, Kapten Kendall L. Card, menegaskan akan membantu rakyat Aceh habis-habisan. “Saya belum tahu kapan USS Abraham Lincoln mengangkat sauh,” ujar Kendall L. Card.

Kapal induk itu adalah raksasa yang memiliki pelbagai fasilitas. Kapal yang digerakkan dengan tenaga nuklir itu memiliki landasan sepanjang 333 meter dengan lebar 77 meter\terbesar di kelas kapal induk. Tapi landasan itu tetap tak mampu menampung 90 pesawat dan heli tempur yang dibawanya. Karenanya, sekitar 60 pesawat disimpan di dalam tiga dek kapal dalam keadaan terlipat\seluruhnya, kapal memiliki 14 lantai dek. Tempo beruntung dapat memasuki area penyimpanan di dek khusus yang dijaga ekstraketat. Puluhan pesawat tempur F-18 C Superhornet dan ratusan peluru kendali ada di sana, ditata berjajar.

Toh, operasi tentara Amerika bukanlah operasi yang bebas. Mayjen TNI Bambang Darmono, komandan operasi TNI di Aceh, “mengendalikan” aktivitas pasukan dan mesin perang Amerika di Aceh. Setiap pagi, Bambang Darmono melakukan briefing kepada pasukan asing\Amerika, Australia, Selandia Baru, Malaysia, dan Singapura\di Banda Aceh. Mereka mengkaji situasi terakhir ratusan ribu pengungsi dan korban tsunami. Dari sini, ditentukan target operasi harian yang akan dilakukan. “Kami hanya membantu, bukan mengambil alih komando,” ujar Kapten Kendall L. Card.

Operasi kapal induk USS Abraham Lincoln merupakan perpanjangan tangan keputusan Washington. Dengan kecepatan maksimum 33 knot (55 kilometer per jam), kapal induk ini dua pekan lalu meninggalkan perairan Hong Kong menuju Aceh. Presiden Amerika George W. Bush menugasi Abraham Lincoln agar segera melakukan pelbagai tindakan darurat untuk operasi penyelamatan. Negeri adikuasa itu menyatakan akan memberikan bantuan ke Indonesia dan negara-negara korban gempa dan tsunami hingga US$ 350 juta. Hanya dalam hitungan hari, helikopter Amerika mampu mengirim 100 ribu ton makanan, susu, air minum, dan obat-obatan. Pasukan Amerika juga mendirikan rumah sakit lapangan di Meulaboh. Puluhan dokter, petugas medis kapal induk USS Abraham Lincoln, dibantu pilot helikopter, bekerja menangani kesehatan ribuan pengungsi. “Saya bangga bisa terlibat operasi ini,” ujar pilot Lee A. Salas, “Kami membantu sebagai sesama manusia.”

Sebenarnya, operasi ini bukanlah tugas kemanusiaan pertama bagi USS Abraham Lincoln. Kapal ini pada Juni 1991 juga mengevakuasi korban letusan Gunung Pinatubo di Filipina. Tak kurang dari 60 ribu warga di sekitar gunung kehilangan tempat tinggal. Selain itu, pada Oktober 1993 kapal ini juga melakukan operasi kemanusiaan di Mogadishu, Somalia. Sedangkan operasi militer terakhir dilakukan Abraham Lincoln di Perang Afganistan (2001) dan Perang Irak (2002).

Selain di kapal induk, Tempo berkesempatan mengikuti helikopter Saberhawk (HSL-47) yang akan melakukan operasi. Sebelum berangkat, staf penerbangan mencatat calon penumpang heli. Setelah mendaftarkan nama dan identitas lengkap, petugas memberi perlengkapan terbang. Helm khusus dengan penutup telinga dan kacamata, pasokan makanan, serta baju berpelampung otomatis menjadi perlengkapan wajib. Setelah take off, helikopter melesat dengan cepat. Sekitar lima menit kemudian, helikopter dari skuadron 47 itu sudah berada di atas Meulaboh. Pilot juga membawa heli menyusuri pinggiran pantai untuk melihat kondisi terakhir di lapangan. Dari atas heli, Kota Meulaboh terlihat rata dengan tanah. Bekas bangunan gedung dan rumah hanya meninggalkan jejak berupa sisa fondasi. Tak ada geliat kehidupan.

Hari itu helikopter Amerika dijadwalkan mengevakuasi sekitar 50 orang yang sakit dan terluka. Andi Afrizal, 8 tahun, adalah salah satu korban yang dievakuasi dari Meulaboh ke Banda Aceh. Awak heli Saberhawk menggotong bocah yang mengalami luka serius di sekujur tubuhnya. Lengan kanan Afrizal patah dihantam kayu yang dibawa tsunami. Paru-parunya dipenuhi air berlumpur. Saat Tempo menemui Afrizal di Rumah Sakit Kesdam, Banda Aceh, bocah yang kehilangan keluarganya ini terkulai lemah. Dokter menyatakan ia masih dalam keadaan kritis.

Afrizal adalah satu jiwa yang tertolong berkat misi kemanusiaan awak USS Abraham Lincoln itu. Ratusan orang, mungkin ribuan, terbantu misi kemanusiaan negara adikuasa yang sering dikritik itu. Pro dan kontra selalu terjadi\walau sesungguhnya hal ini tak relevan di tengah kondisi Aceh yang kritis.

Matahari mulai condong di ufuk barat Samudra Hindia. Kevin Ferguson, pilot heli Saberhawk itu, kembali ke landasan kapal induk. Untuk sementara: mission accomplished.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: