Partai No, Figur Yes

RUANG sidang Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung, Rabu pekan lalu, disesaki ratusan pendukung calon Wali Kota Depok, Badrul Kamal. Hari itu, majelis hakim kembali menggelar persidangan kasus pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok yang berlangsung pada 26 Juni 2005. Badrul Kamal, calon wali kota dari Partai Golkar, tak menerima kekalahannya. Dia menggugat keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Depok ke pengadilan. hBanyak kesalahan yang dilakukan KPU Depok,h ujar Badrul.

Versi Badrul, hasil pemilu Wali Kota Depok periode 2005-2010 cacat hukum. Baginya, kemenangan Nurmahmudi Ismail\yang diusung Partai Keadilan Sejahtera\dinodai oleh pelbagai keanehan. Badrul mengaku menemukan ribuan kartu pemilih yang tak bertuan alias fiktif. Itu sebabnya, Badrul, yang sebelumnya pernah menjadi Wali Kota Depok, berkeras maju ke pengadilan.

KPU Daerah Depok tentu saja membantah cuap-cuap Badrul itu. Abdul Kholik, anggota komisi itu, menyatakan pihaknya menyelenggarakan pilkada sudah sesuai dengan prosedur. Setiap warga Depok yang berhak memilih dilengkapi dengan kartu pemilih. Semua data itu masih tersimpan rapi, termasuk file asli penghitungan suara di tiap tempat pemungutan. hKalau diperlukan, itu bisa jadi bukti yang sangat kuat,h ujar Abdul Kholik.

Badrul Kamal hanyalah salah satu contoh calon Partai Golkar\pemenang pemilu legislatif 2004\yang rontok dalam pemilihan kepala daerah. Di beberapa daerah lainnya, calon yang disodorkan partai beringin itu keok. Ferry Mursidan Baldan, Ketua Pokja Pilkada Partai Golkar, mengatakan target 60 persen yang dibidik Golkar dalam pilkada meleset jauh. Beberapa figur yang diusung Partai Golkar tak laku dijual ke konstituen. hKami cuma meraih 38 persen,h ujar Ferry Mursidan.

Golkar bukannya tidak menyaring calon yang dijagokan. Menurut Ferry, partainya mempunyai mekanisme internal yang ketat untuk memilih calon kepala daerah. Malahan banyak kader partai itu yang kini menjadi penguasa di daerah (incumbent). Toh, banyak calon yang diajukan itu tidak memikat hati rakyat.

Selama ini Golkar kerap memilih kader yang masih duduk di birokrasi atau yang memiliki pengalaman birokrasi yang matang. Selain dianggap kapabel, mereka sudah menjadi figur yang populer di wilayahnya. hMemang ada tren menjadikan incumbent sebagai kandidat Partai Golkar,h ujar Ferry.

Memang, dalam beberapa pilkada kiat mencalonkan incumbent terbukti manjur. Zulkifli Nurdin, gubernur terpilih Provinsi Jambi, misalnya, adalah salah satu contoh incumbent Golkar yang menang. Berpasangan dengan Antoni Zeidra Abidin, ia menang telak dalam pemilihan pada 26 Juni lalu. Zulkifli-Antoni jauh meninggalkan dua pasangan lainnya, Hasip Kalimudin Syam-Hasrun Hr. Arbain serta Usman Ermulan-H. Irsal Yunus.

Menurut pakar politik Ryaas Rasyid, sistem pilkada sebenarnya memang menguntungkan calon incumbent. Sistem ini sejak awal didesain oleh Partai Golkar dan PDI Perjuangan, yang notabene memiliki banyak kader yang menjadi kepala daerah. hGubernur dan bupati dulu dipilih DPRD yang dikuasai Partai Golkar dan PDI Perjuangan,h ujar Ryaas Rasyid. Posisi ini cenderung akan dipertahankan. Bila ada calon incumbent yang gagal, menurut Ryaas, lebih karena figur tersebut terlalu bermasalah.

PDI Perjuangan bernasib sedikit berbeda. Si Moncong Putih cukup puas dengan hasil pilkada putaran pertama. Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Pramono Anung, mengatakan perolehan kemenangan dalam pemilihan kepala daerah itu melampaui target. Untuk pemilihan gubernur, misalnya, dari enam provinsi yang melangsungkan pemilihan, PDI Perjuangan menang di tiga daerah. Tiga pasang jago PDI Perjuang, Sinyo Harry-Freddy Harry Sualang (Sulawesi Utara), Teras Narang-Achmad Diran (Kalimantan Tengah), dan Gumawan Fauzy-Marlis Rahman (Sumatera Barat), menang dengan perolehan suara cukup meyakinkan.

Sukses PDI Perjuangan juga terjadi di pemilihan bupati. Dari 122 kabupaten yang telah melangsungkan pemilihan, 44 dimenangi oleh calon yang diusung PDI Perjuangan. Sedangkan di tingkat pemerintahan kota, partai yang dalam pemilu legislatif di urutan kedua ini lagi-lagi meraih sukses. Tujuh dari sembilan pemerintahan kota dapat dikuasai PDIP. hHasil itu jauh melampaui target Partai,h ujar Pramono Anung.

Apa rahasia sukses PDI Perjuangan? Pramono mengaku dalam pemilihan langsung perolehan suara sangat bergantung pada figur yang ditawarkan. Citra calon yang bersih, populis, dan mengakar akan menjadi penentu keberhasilan. Nah, karena tak banyak kader yang memenuhi kriteria itu, Dewan Pimpinan Pusat PDI Perjuangan mengubah strategi. hCalon yang diusung tak harus dari kader,h ujar Pramono Anung. hYang penting visi dan ideologinya sama.h

Hasil pemilihan kepala daerah mengindikasikan bahwa figur sangat menentukan dalam sistem pemilu langsung. Fenomena ini telah terbukti pada pemilu presiden-wakil presiden pada 2004. Susilo Bambang Yudhoyono, yang diusung oleh Partai Demokrat, mengalahkan empat pasangan kandidat lainnya. Padahal, dalam pemilu legislatif, Partai Demokrat hhanyah meraih 7,45 persen suara. Peroleh suara itu jauh di bawah Partai Golkar (21,58 persen) dan PDI Perjuangan (18,53 persen).

Pola serupa juga terjadi di pemilihan kepala daerah. Beberapa figur yang diusung oleh partai gurem justru meraih kemenangan. Lihat saja pemilihan di Kabupaten Padang Pariaman pada 27 Juni lalu. Pasangan Muslim Kasim-Ali Mukhmi, yang dicalonkan Partai Buruh Sosial Demokrat dan Partai Nasionalis Banteng Kemerdekaan, mengalahkan kandidat dari Partai Golkar dan PDI Perjuangan. Muslim Kasim, yang sebelumnya menjadi Bupati Padang Pariaman, berhasil meraih suara mayoritas secara telak. Anehnya, DPRD Padang Pariaman, yang dikuasai Partai Golkar dan PDI Perjuangan, menolak hasil pemilihan itu. hKami menganggap KPU Daerah tidak fair,h ujar Achyardi, Ketua DPRD Padang Pariaman.

Kemenangan Muslim Kasim-Ali Mukhmi dalam pilkada Padang Pariaman memang tidak sepenuhnya karena faktor incumbent. Penyebab lain yang tidak kalah penting adalah gugurnya lawan terkuat pasangan itu, Iqbal Alan Abdullah-Yulius Daniel, sebelum bertanding. KPU Daerah Padang Pariaman mencoret pasangan itu karena persoalan administratif. Iqbal Alan, yang digadang-gadang Partai Golkar, Partai Keadilan Sejahtera, dan Partai Bintang Reformasi, tak mampu menunjukkan ijazah SMP kepada KPUD. Muslim Kasim-Ali Mukhmi memang figur yang populer di Padang Pariaman.

Kekalahan pasangan Badrul Kamal-Syihabuddin Ahmad di Depok juga menjadi contoh kuat betapa figur sangat menentukan dalam pemilihan kepala daerah. Dari hitungan hkertash, peluang Badrul memimpin kembali Kota Depok sebenarnya cukup besar. Dalam deklarasi pencalonannya di Hotel Bumi Wiyata Depok, tujuh partai\Golkar, Partai Demokrat, PDI Perjuangan, Partai Amanat Nasional, Partai Persatuan Pembangunan, Partai Kebangkitan Bangsa, dan Partai Damai Sejahtera\menyatakan mendukung pasangan Badrul-Syihabudin. Tapi apa lacur, dukungan mesin politik yang dahsyat itu tetap tak mampu menahan laju Nurmahmudi Ismail, bekas Presiden Partai Keadilan, yang sangat populer di Depok.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: