Pojok Peradaban di New York dan Chicago

SAYA merasa terpelanting ke empat ribu tahun silam,” kata John R. Cohen, 45 tahun, seorang pengunjung Metropolitan Museum of Art, New York.

Di hadapan Pak Cohen memang ada patung Sphinx Senworset III (1878-1841 SM) yang dingin. Tapi entahlah, melalui tatapan matanya, penguasa dinasti kedua belas kerajaan Mesir kuno itu seakan datang ke New York dengan tujuan yang tunggal: menjemput sekaligus menjebloskan pengunjung ke dalam periode hidupnya.

Kita sebenarnya tahu, patung batu granit sepanjang 73 sentimeter adalah sebuah karya seni yang hebat. Tapi tentu bukan soal itu saja yang membuat Pak Cohen larut dalam refleksi seorang manusia. Kemungkinan besar, itulah soal “rumah”, tempat berteduh Sphinx Senworset III. Museum yang meletakkan sang penguasa pada tata letak, suhu ruang, dan teknik pencahayaan mendekati sempurna.

Ya, sebuah museum memang bisa bercerita panjang. Metropolitan Museum of Art, New York, sudah berdiri sejak 1870, dan sering disebut sebagai ikon perjalanan peradaban manusia. Ia dianggap museum yang memiliki “koleksi terbaik dan terlengkap” di dunia\paling tidak itulah istilah Direktur Metropolitan Museum, Philippe de Montebello. Dan di dalam gedung kukuh seluas 250 ribu meter persegi itu, tersimpan tak kurang dua juta koleksi dari pelbagai belahan bumi.

Metropolitan Museum of Art punya koleksi istimewa. Koleksi tertuanya, batu pemantik api dari dataran Mesir era Paleolitikum (300.000-75.000 SM). Benda-benda luar biasa yang tentu saja punya ongkos hidup tinggi. Tahun 2004 museum ini menyedot dana US$ 264 juta (sekitar Rp 2,4 triliun) untuk biaya operasional sehari-hari. Biaya yang dihabiskan untuk pemeliharaan koleksi, perawatan gedung, keamanan, publikasi, dan pendidikan serta gaji karyawan. Patut dicatat, dana tersebut belum termasuk untuk keperluan pameran dengan tema khusus.

Banyak yang menyayangi museum di Central Park ini, museum yang tahun lalu defisit US$ 5 juta. Memang, di samping uang dari tiket masuk, orang-orang kaya Kota New York menjadi penyangga utama. Bill Blass, pengusaha realestat, tahun lalu merogoh kocek US$ 13 juta untuk biaya perawatan. Elliot C. Nollen, pengusaha hotel dan restoran, menyumbang US$ 5 juta untuk pendidikan.

Ada miliarder penyandang dana, ada tanda kasih dari pencinta museum seperti keluarga Emillio Fernandez. Keluarga yang tiap Senin mengganti bunga di gedung utama Metropolitan Museum. Nama keluarga Fernandez tertera di bawah vas bunga setinggi 50 sentimeter.

Pengelola museum membagi ruang berdasar kategori periode dan wilayah. Ada 22 kategori, antara lain Mesir Kuno (patung sphinx, relief era, perhiasan), Peradaban Eropa (keramik, gelas kuno, peralatan ilmu pengetahuan dan lukisan para maestro Eropa), Yunani dan Romawi (patung, barang perunggu, peralatan perang, dan lukisan dinding), Asia (keramik Cina kuno, lukisan Jepang, alat tempur, giok, dan kaligrafi kuno).

Metropolitan Museum of Art New York sekarang sangat populer. “Setiap tahun Metropolitan Museum menyedot 2,5 juta pengunjung,” kata Philippe de Montebello. Tempo mengucap selamat tinggal, lalu bergerak ke museum selanjutnya, Museum of Modern Art (MoMA) di jan-tung Manhattan.

Museum ini menyimpan 135 ribu benda seni. Ia baru dibuka pada November 2004, setelah makan begitu banyak dana. Sebelumnya, selama dua setengah tahun, MoMA ditutup untuk umum karena sedang direnovasi habis-habisan. Direktur MoMA, Glenn D. Lowry, kepada Tempo, percaya renovasi merupakan langkah ekstrem untuk memperkuat eksistensi museum. Sentuhan artistik terlihat pada bentuk serta isi sang museum.

Ada sentuhan Cesar Pelli\dia juga arsitek Gedung Petronas Malaysia\di pucuk gedung ini. Ya, sebuah menara unik yang tetap dipelihara bentuk aslinya. Dan Facade pintu utama hasil rancangan arsitek Philip Goodwin dan Edward D. Stone pada 1939 juga dipertahankan seperti sediakala.

Adalah arsitek Yoshio Taniguchi yang merancang desain dan tata letak gedung baru seluas 70 ribu meter persegi pada bentuknya yang sekarang. “Biaya pembangunannya mencapai US$ 858 juta (Rp 7,7 triliun),” ujar Glenn D. Lowry. Yoshio Taniguchi sengaja membiarkan beberapa elemen khas MoMa yang lama. Museum yang berdiri pada 1929 ini masih menyimpan beberapa “penanda” penting.

Di pojok-pojok museum yang terletak di 11 West 53 Street, Manhattan, ini disimpan pelbagai koleksi supermahal. Karya pelukis flamboyan Pablo Picasso Demoiselles d’Avignon (1907), mahakarya maestro Vincent van Gogh The Starry Night (1889), lukisan Paul Gauguin Te aa no areois (1892), dan lukisan potret diri Emiliano Zapata karya David Alfaro, ditata dengan apik. Patung karya Auguste Rodin Monument to Balzac (1898) dan patung karya Umberto Boccioni Unique Forms of Continuity in Space (1913) menjadi penanda penting. Total jenderal, museum ini mengoleksi 150 ribu lukisan, model arsitektur, dan obyek desain. Selain itu ada 22 ribu potret, film, dan video. Sedangkan bagian perpustakaan memiliki tak kurang dari 300 ribu judul buku tentang literatur seni modern.

Museum ketiga, Art Institute of Chicago di Kota Chicago, kota yang melahirkan klub basket Chicago Bulls, dua jam penerbangan dari New York. Museum yang berdiri sejak 1879 ini juga terletak di jantung kota, dan tak pernah sepi dari pengunjung. Karya pelukis Gustave Caillebotte Paris Street; Rainy Day (1877) dan karya pelukis Belanda Vincent van Gogh Self Portrait (1891) disimpan di sini.

Direktur Art Institute of Chicago, Eloise W. Martin, menyebut museum yang dipimpinnya mengoleksi benda seni dari semua belahan bumi. Usia karya peradaban manusia sejak 5.000 tahun silam itu disimpan dengan teknik dan pengamanan ekstra-ketat. Setiap tahun, Art Institute menghabiskan dana US$ 146 juta (Rp 1,3 triliun).

Museum yang baik menghubungkan koleksinya dengan pengunjung. Museum yang baik bisa mempertemukan manusia modern dengan manusia prasejarah. Di Metropolitan Museum of Art, New York, ada John Cohen yang merasa terpelanting ke dunia empat ribu tahun silam. Di Museum Nasional Jakarta, yang memiliki 10 ribu benda tapi sepi pengunjung itu, ada Amir Sidharta, pengamat seni, yang mengeluh, “Pemerintah dan publik tak mengetahui pentingnya sebuah museum.” Sayang sekali.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: