Potret Perjalanan Duit Haram

SELUK BELUK TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG DAN PEMBIAYAAN TERORISME
Penulis: Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini, S.H.
Penerbit: Pustaka Utama Grafiti, 2004
Tebal: 484 halaman

***

PENCUCIAN uang seperti korupsi, sebuah reputasi yang menorehkan aspal pada wajah Indonesia, surga bagi para pencuci uang. Sebuah vonis atau predikat yang meletakkan Indonesia di antara “surga-surga” lain: Cook Island, Guatemala, Myanmar, dan Nigeria.

Belakangan, kita tahu kasus Edy Santosa, bekas kepala pelayanan nasabah luar negeri Bank BNI Kebayoran. Ia terbukti mencairkan 37 letter of credit fiktif–tindakan yang merugikan negara Rp 1,7 triliun. Tapi inilah Seluk Beluk Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pembiayaan Terorisme, buku berjudul panjang dan berisi penjelasan panjang-lebar tentang anatomi pencucian uang. Boleh jadi ini sebuah buku terbaik-terlengkap berbahasa Indonesia yang mengulas topik itu.

Dengan rinci dan telaten Prof. Dr. Sutan Remy Sjahdeini S.H., penulis buku ini, misalnya, mengupas aneka taktik yang lazim ditempuh. Ada metode penempatan (placement), memutus hubungan dengan sumber dana (layering), dan memanfaatkan untuk kegiatan bisnis (integration), bahkan metode terkini, yang menyalahgunakan E-money untuk tujuan pencucian uang.

Pencucian uang atau money laundering sebenarnya istilah baru–lahir dari pemberitaan kasus Watergate pada 1973 di Amerika Serikat. Sutan Remy Sjahdeini menyebut prestasi “wah” kita dalam pencucian uang berangkat dari sebuah “salah tangkap”, salah menafsirkan kecenderungan di dunia internasional. Waktu itu, Indonesia masih di bawah Soeharto, dan tim ekonomi dalam kabinet, seperti Widjojo Nitisastro, menganggap penerapan rezim anti-pencucian uang akan berdampak buruk. Widjojo, dan “mafia Berkeley” lainnya, khawatir undang-undang anti-pencucian uang menghambat masuknya modal asing ke Indonesia. Sebuah logika berpikir yang belakangan terbukti keliru.

Situasi mulai berubah saat Indonesia di tubir krisis ekonomi 1997. Indonesia tak memiliki posisi tawar kuat saat berhadapan dengan lembaga moneter internasional, IMF. Saat itu IMF menekan Indonesia untuk segera membuat UU anti-pencucian uang. Bahkan hal ini menjadi salah satu poin dalam letter of intent antara Indonesia dan IMF. Setelah melewati perdebatan yang melelahkan di parlemen, baru pada April 2002 lahir UU No. 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Perkembangan itu dilukiskan Sutan Remy Sjahdeini dengan apik dan jelas dalam buku ini–ia termasuk dalam tim ahli yang ikut menyusun undang-undang itu.

Tapi dampak “salah tangkap” itu berbuntut panjang. Lembaga dunia soal pencucian uang, FATF, menganggap UU No. 15/2002 tak memenuhi standar internasional. Soal rekening tanpa nama, misalnya, masih diizinkan penggunaannya oleh Bank Indonesia. Akibatnya, Indonesia masuk daftar Non-Cooperative Countries/Territories (NCCT). Kondisi ini sungguh menyulitkan. Soalnya, IMF dan Bank Dunia, dua lembaga yang menjadi pengawas FATF, sangat prihatin dengan kondisi pencucian uang di negeri penerima pinjaman. Inilah yang memaksa Indonesia mengamendemen UU No. 15/2002 menjadi UU No. 25/2003.

Toh, pemberlakuan UU No. 25/2003 tak serta-merta membuat Indonesia keluar dari daftar NCCT. Soalnya, FATF masih akan mengkaji keseriusan Indonesia menjalankan undang-undang tersebut. Sialnya, setelah mengamati Indonesia selama setahun, pertemuan Dewan Direktur FATF di Paris pada Juli 2004 menyatakan tak puas dengan hasil kerja Indonesia. Buntutnya, Indonesia masih nangkring dalam daftar hitam negeri surga pencucian uang.

Penulis, guru besar hukum perbankan Universitas Indonesia dan Universitas Airlangga, tanggap terhadap perkembangan dunia. Secara khusus, ia membahas fenomena yang mengaitkan pencucian uang dengan terorisme–pencucian uang yang dilukiskan oleh dunia internasional sebagai bahan bakar buat menjaga nyala api terorisme. Alhasil, inilah buku yang boleh jadi merupakan pengenalan terhadap pencucian uang, satu pengenalan yang cukup komprehensif.

3 Responses

  1. […] Situasi mulai berubah saat Indonesia di tubir krisis ekonomi 1997. Indonesia tak memiliki posisi tawar kuat saat berhadapan dengan lembaga moneter internasional, IMF. Saat itu IMF menekan Indonesia untuk segera membuat UU anti-pencucian uang. Bahkan hal ini menjadi salah satu poin dalam letter of intent antara Indonesia dan IMF. Setelah melewati perdebatan yang melelahkan di parlemen, baru pada April 2002 lahir UU No. 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Perkembangan itu dilukiskan Sutan Remy Sjahdeini dengan apik dan jelas dalam buku ini–ia termasuk dalam tim ahli yang ikut menyusun undang-undang itu. Selengkapnya baca di setiyardi […]

  2. […] Situasi mulai berubah saat Indonesia di tubir krisis ekonomi 1997. Indonesia tak memiliki posisi tawar kuat saat berhadapan dengan lembaga moneter internasional, IMF. Saat itu IMF menekan Indonesia untuk segera membuat UU anti-pencucian uang. Bahkan hal ini menjadi salah satu poin dalam letter of intent antara Indonesia dan IMF. Setelah melewati perdebatan yang melelahkan di parlemen, baru pada April 2002 lahir UU No. 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Perkembangan itu dilukiskan Sutan Remy Sjahdeini dengan apik dan jelas dalam buku ini–ia termasuk dalam tim ahli yang ikut menyusun undang-undang itu. Selengkapnya baca di setiyardi […]

  3. […] Situasi mulai berubah saat Indonesia di tubir krisis ekonomi 1997. Indonesia tak memiliki posisi tawar kuat saat berhadapan dengan lembaga moneter internasional, IMF. Saat itu IMF menekan Indonesia untuk segera membuat UU anti-pencucian uang. Bahkan hal ini menjadi salah satu poin dalam letter of intent antara Indonesia dan IMF. Setelah melewati perdebatan yang melelahkan di parlemen, baru pada April 2002 lahir UU No. 15/2002 tentang Tindak Pidana Pencucian Uang. Perkembangan itu dilukiskan Sutan Remy Sjahdeini dengan apik dan jelas dalam buku ini–ia termasuk dalam tim ahli yang ikut menyusun undang-undang itu. Selengkapnya baca di setiyardi […]

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: