Sutiyoso: “Ketua PBSI Adalah Jabatan Rugi”

SUASANA di Restoran Golf Club, Senayan, Rabu pekan lalu tampak meriah. Ada prasmanan dengan menu lengkap, ada alunan musik hidup. Siang itu, Sutiyoso, yang baru terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), punya hajat penting. Ia mengumpulkan seluruh pengurus PBSI dan para atlet yang akan segera berangkat ke Olimpiade di Athena, Yunani. Pensiunan jenderal bintang tiga itu memompakan semangat kepada para atlet. “Demi Merah-Putih, kalau perlu kalian mati di lapangan,” ujar Sutiyoso. Retoris, tapi itulah Sutiyoso.

Ia memang punya mimpi besar. Orang nomor satu di DKI Jakarta ini berambisi mendongkrak prestasi bulu tangkis nasional yang tengah anjlok. Bersama beberapa nama besar seperti Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, dan Imelda Wiguna, ia mencoba mengembalikan pamor bulu tangkis Indonesia.

Apa yang akan dilakukan Sutiyoso di PBSI? Mengapa ia melibatkan banyak “nama beken” dalam dunia bulu tangkis? Apa komentarnya tentang perilaku atlet Taufik Hidayat yang temperamental? Untuk menjawab pelbagai pertanyaan tersebut, wartawan Tempo Setiyardi mewawancarainya seusai acara di Restoran Golf Club. Sutiyoso meminta Pengurus PBSI Rudy Hartono, G. Sulistyanto, dan Icuk Sugiarto mendampinginya selama wawancara berlangsung. Berikut kutipannya.

Anda baru terpilih menjadi Ketua PBSI. Siapa yang mendorong Anda?

Awalnya saya tak membayangkan menjadi Ketua PB PBSI. Tapi, saat terjadi kemelut di PB PBSI, Icuk Sugiarto dan Retno Kustiyah, yang mewakili pengurus daerah, mendatangi saya. Kemudian, maestro bulu tangkis Rudy Hartono dan Tan Joe Hok, yang mengatasnamakan komunitas bulu tangkis, juga datang. Rudy bilang tak ada figur lain yang bisa mengeluarkan PBSI dari kemelut kecuali saya. Tapi saat itu saya belum memberikan jawaban.

Mengapa Anda tak langsung menerima pinangan tokoh-tokoh bulu tangkis itu?

Memimpin PBSI adalah tugas berat. Banyak hal yang harus dipertaruhkan.

Apa yang membuat Anda maju ke pencalonan sebagai Ketua PBSI?

Tak disangka, Saudara Chairul Tanjung (Ketua PBSI yang digantikan Sutiyoso–Red.) datang bersama sekjennya. Dia mengaku gagal dan harus mundur. Saat itu Chairul bilang akan mundur bila sudah ada yang menggantikan. Dan dia ingin saya yang menjadi Ketua PBSI. Saya belum mengiyakan. Puncaknya, saya mendapat telepon dari sesepuh PBSI, Pak Try Sutrisno. Lewat telepon, Pak Try bilang, “Dik, kalau ada permintaan dari masyarakat bulu tangkis untuk menjadi Ketua PBSI, tolong diterima.” Itu yang kemudian membuat saya menerimanya. Lagi pula, kalau semua menolak, siapa yang akan memimpin PBSI ini?

Apakah Anda hobi bermain bulu tangkis?

Saya suka menonton bulu tangkis. Tapi memang saya belum pernah main bulu tangkis. Sekarang saya terpaksa belajar bulu tangkis dengan pemain idola saya: Rudy Hartono. Saya harus giat belajar agar bila meresmikan acara bulu tangkis bisa memukul shuttle cock. Ha-ha-ha….

Anda sempat meminta izin Presiden saat menjadi Ketua PBSI?

Saat dulu maju ke pencalonan Ketua KONI, memang harus ada izin Presiden. Tapi, soal PBSI ini saya tak perlu izin ke Presiden. Presiden Megawati cuma bilang, “Mas, yang penting pandai-pandai mengatur waktu saja.”

Sebagai Gubernur DKI Jakarta, Anda orang yang sangat sibuk. Bagaimana cara Anda memimpin PBSI?

Saya memang sangat sibuk. Setiap hari saya biasa bekerja 12 jam di kantor. Mulai pukul 8 pagi sampai 8 malam. Setelah pulang kantor, saya masih kerap menerima tamu yang cepretan-cepretan. Karena itulah, saya mengubah struktur PBSI. Saya membuat ada posisi Wakil Ketua PBSI. Saya menunjuk adik kelas saya, Mayjen (Purn.) Ferrial Sofyan, untuk pos itu. Dia akan full time di posisi tersebut. Dia bisa mengambil keputusan. Dan Ferrial saya izinkan untuk setiap saat menelepon saya. Bagaimanapun, keputusan yang prinsip tetap ada di tangan saya.

Mengapa Anda memilih orang militer? Bukankah lebih baik tokoh yang mengerti bulu tangkis?

Saya sengaja tak memilih orang yang berasal dari komunitas bulu tangkis. Saya harus mempunyai wakil yang “satu otak” dengan saya. Hatinya harus tuned in. Selain itu, yang paling utama dia harus loyal kepada saya. Sebagai jenderal bintang dua, dia pasti loyal kepada saya yang jenderal bintang tiga. Saya tidak mau berspekulasi.

Saat terpilih jadi Ketua PBSI, Anda masih berstatus Ketua Persatuan Bola Basket Seluruh Indonesia (Perbasi). Bagaimana?

Saat itu saya memang masih Ketua Perbasi. Tapi kemudian saya mundur secara baik-baik. Saya bilang kepada pengurus Perbasi mengenai kondisinya. Saya berada di simpang jalan. Kemudian mereka bilang, “Kalau yang minta bulu tangkis, boleh. Tapi, kalau cabang lain, tak diizinkan.”

Ada yang bilang Anda rakus jabatan….

Maaf, bagi saya jabatan ini bukan apa-apa. Sejak dulu saya sudah populer. Buktinya banyak yang ingin foto bareng dengan saya. Lagi pula, kalau ada yang bilang ke saya bahwa dia lebih bisa memimpin PBSI, akan saya lepas. Saya akan memberikan jabatan Ketua PBSI itu kepada dia. Jadi, kalau ada yang merasa lebih mampu memimpin PBSI, silakan datang ke saya.

Apa persoalan besar dalam tubuh PBSI?

Saat ini kita telah kehilangan semua: Piala Thomas, Piala Uber, gelar All England, dan Piala Sudirman. Artinya, memang ada persoalan serius dalam tubuh PBSI. Kita telah gagal melakukan regenerasi atlet. Sekarang kita sangat bergantung pada Taufik Hidayat. Anda tahu sendiri, bila seorang atlet merasa dirinya sangat dibutuhkan PBSI?

Apa yang akan Anda lakukan untuk memperbaiki PBSI?

Sudah menjadi karakter saya untuk selalu bekerja keras. Saya menerima jabatan Ketua PBSI tentu saja dengan konsekuensi yang sangat berat. Bulu tangkis merupakan satu-satunya cabang olah- raga yang dapat mengangkat harkat dan martabat bangsa di mata dunia. Sebenarnya kita punya potensi. Tan Joe Hok, tokoh senior bulu tangkis, bilang bahwa bulu tangkis Indonesia masih bisa diselamatkan. Kami akan bekerja keras untuk mengembalikan kejayaan bulu tangkis Indonesia. Kita masih punya peluang.

Anda mengedarkan kuesioner ke para pengurus PBSI. Apa isinya?

Itu kuesioner yang berisi kesediaan mengundurkan diri secara sukarela. Mereka harus menandatangani kuesioner itu, kemudian diserahkan kepada saya. Jadi, bila suatu saat mereka tak mampu melaksanakan tugasnya, mereka harus bisa diganti dengan orang yang lebih kapabel. Mereka tak boleh tersinggung dengan kuesioner itu. Ini demi kepentingan organisasi.

Bagaimana bila justru Anda yang dianggap gagal?

Ini jabatan rugi dan makan hati. Bila saya dianggap gagal, saya akan mundur dengan sukarela.

Apa kesalahan PBSI di era Chairul Tanjung?

Saya tidak bisa menjawab pertanyaan itu. Setiap pemimpin punya gaya masing-masing. Saya memiliki prinsip, atlet harus muncul dari daerah. Jadi, organisasi dan atlet di daerah harus hidup. Saya telah menugasi Rudy Hartono, Ketua Bidang Organisasi dan Pengembangan Daerah, untuk mengurusnya. Saya tak ingin PBSI seperti cabang olahraga lain. Banyak cabang olahraga, seperti olahraga menembak, yang tidak punya lapangan dan atlet di daerah. Anehnya, di daerah itu ada pengurus yang kerap rapat. Itu hanya menipu diri sendiri.

Anda punya terobosan khusus?

Ya, saya membuat Bidang Penelitian dan Pengembangan dalam struktur organisasi PBSI. Sebelumnya bidang ini tak ada. Saya menunjuk Tan Joe Hok, tokoh senior bulu tangkis, untuk memimpinnya. Dia akan saya terjunkan untuk mencari bibit-bibit secara selektif. Bulu tangkis sangat membutuhkan postur tubuh yang tinggi. Saat ini kita belum maksimal. Lihat saja postur pemain putri kita yang dikirim ke Olimpiade Yunani. Postur mereka pendek-pendek. Saya agak sulit membayangkan bila mereka mendapat pukulan smash dari pemain putri Cina yang tingginya lebih dari 170 sentimeter.

Apakah Anda akan mencari bibit dari seluruh Indonesia?

Tak semua suku cocok. Orang Irian, misalnya, mereka tak disiplin karena suka minuman keras. Saya pernah membina mereka untuk jadi petinju. Saya tak berhasil meski sudah menghabiskan banyak uang.

Apakah bibit unggul itu akan langsung masuk pelatnas?

Saya kira tidak semua orang bisa masuk pelatnas. Harus ada seleksi yang sangat ketat. Hanya orang yang berprestasi yang bisa masuk pelatnas. Kemudian pelatnas ini akan saya jadikan kawasan candradimuka. Tak ada lagi cerita atlet bisa makan di luar. Semua harus di dalam. Tentu fasilitas di pelatnas harus diperbaiki agar mereka bisa santai, main biliar dan nonton TV di sana. Selain itu, gizi mereka harus betul-betul diawasi oleh dokter gizi. Pokoknya, pelatnas harus betul-betul prestisius.

Bukankah para atlet pelatnas adalah anak-anak muda? Bagaimana dengan kebutuhan “jiwa muda” mereka?

Kita memang harus menampung keinginan mereka. Tentu harus bisa dikelola dengan baik. Ada saat istirahat, ada saat latihan. Mereka bisa jalan-jalan ke Dunia Fantasi di Ancol. Tapi kita tetap harus menerapkan disiplin yang keras. Saya akan membina atlet pelatnas seperti membina prajurit. Motonya sama: “lebih baik mandi keringat saat latihan, daripada mandi darah saat perang.” Jadi, daripada dipermalukan saat pertandingan, mereka harus mandi keringat saat latihan.

Mana yang Anda pilih: atlet yang berprestasi atau atlet yang disiplin?

Saya lebih memilih atlet yang disiplin, meskipun kurang berprestasi. Soalnya, indisipliner itu bisa menular ke yang lain. Kalau kita terpaksa kehilangan atlet yang berprestasi tapi tak disiplin, akan saya terima. Itu untuk kepentingan yang lebih besar. Sebagai seorang jenderal bintang tiga, saya tahu bahwa sebagian besar kekalahan dalam pertempuran karena ketidakdisiplinan prajurit. Di pasukan khusus, orang yang tidak disiplin akan dipecat dan dipenjara.

Bagaimana kalau Taufik Hidayat tiba-tiba ngambek dan bikin ulah lagi?

Saat ini Olimpiade Yunani sudah sangat dekat. Kita memang sangat bergantung pada Taufik. Tapi setelah itu saya mengajari dia tentang kedisiplinan. Pelatnas harus menjadi kawah candradimuka kedisiplinan atlet. Kalau tidak disiplin, lebih baik menyingkir saja.

Untuk membangun PBSI, dibutuhkan dana yang sangat besar. Dari mana Anda akan mendapatkannya?

PBSI punya dana abadi Rp 32 miliar. Ini dikumpulkan sejak zaman Pak Try Sutrisno. Nah, setiap tahun bunganya sekitar Rp 1,2 miliar. Selain itu ada kontrak dengan Yonex US$ 1,3 juta (sekitar Rp 12 miliar) per tahun. Itu bukanlah uang yang kecil. Tapi uang itu sebetulnya belum cukup untuk macam-macam kegiatan, mulai dari pelatnas hingga biaya memberangkatkan atlet ke pertandingan internasional.

Anda akan meminta perusahaan mitra Pemda DKI menyumbangkan dana?

Ya, saya akan menawarkan kepada mereka untuk menyumbang sukarela. Saya targetkan setiap tahun dapat Rp 15 miliar. Saya yakin mereka tidak perlu “diinjak” agar mau menyumbang. Bulu tangkis adalah satu-satunya cabang olahraga yang mengangkat harkat bang-sa kita. Saya akan menghubungi orang-orang seperti Pak Ciputra dan Ibu Murdhaya. Mereka pasti mau, kok.

Apakah Anda akan menyumbang dari uang pribadi?

Pasti ada juga sumbangan dari kocek saya sendiri. Untuk atlet yang berprestasi, bisa dari kantong saya. Tapi, sebagai ketua, saya sendiri tak mendapat gaji. Begitu juga dengan pengurus yang lain. Ini kerja bakti untuk negara. Memang untuk pelatih kita tentu harus menggajinya. Pelatih seperti Christian Hadinata, misalnya, digaji Rp 10 juta per bulan. Christian itu menantunya yang punya Astra. Dia tidak mau diberi jabatan di Astra karena memilih menjadi pelatih bulu tangkis. Itu barang langka. (G. Sulistyanto, Kepala Bidang Luar Negeri, Turnamen, dan Perwasitan, yang mendampingi Sutiyoso saat wawancara, menyebut gaji pelatih di Malaysia US$ 5.000 per bulan. Itu setara dengan Rp 45 juta per bulan. Red.)

Mengapa Anda memasukkan Tan Joe Hok dan M.F. Siregar, orang yang sudah sangat tua, dalam kepengurusan PBSI?

Meski sudah tua, mereka masih dapat berpikir jernih. Saya sangat membutuhkan keahlian dan pemikiran mereka untuk membangun PBSI. Masyarakat tak perlu meragukan kemampuan mereka.

Apa target Anda sekarang?

Olimpiade sudah sangat dekat. Saya hanya bisa mendorong para atlet seperti memotivasi prajurit yang berangkat perang. Yang penting mereka berjuang mati-matian di lapangan. Kalaupun kalah, asal sudah berjuang mati-matian, saya tidak apa-apa. Bila mereka menang, saya akan memberikan bonus uang. Jumlahnya belum bisa saya sebutkan. Setelah olimpiade, tujuan utama saya adalah merebut Piala Thomas tahun 2006. Saya menyiapkan kelompok pemain dan pelatih khusus. Mereka hanya akan fokus di sana.

Omong-omong, Anda masih tersangkut kasus 27 Juli. Bagaimana bila mengganggu kinerja Anda?

Kasus ini sedang diusut. Anehnya, kok kasus 27 Juli ini bolak-balik dari polisi, kejaksaan, dan pengadilan. Nuansa politiknya sangat tinggi.

Anda merasa dijadikan “bumper politik” menjelang pemilu presiden?

Bisa jadi begitu, tergantung dari mana melihatnya.

Apakah Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), bekas Kepala Staf Kodam Jaya, harus ikut bertanggung jawab?

Saya tak mau menjawab soal itu. Pertanyaan itu terlalu politis.

Benarkah Anda dekat dengan SBY karena sama-sama dari militer?

Apa itu salah? Memang calon presiden dan wakil presiden yang jadi tentara–SBY, Wiranto, dan Agum Gumelar–adalah kawan saya. Tapi saya ini tak punya bakat politik. Saya ini tidak suka berpolitik, tapi lebih suka berkelahi.

Petinggi PDI Perjuangan, Laksamana Sukardi, menilai Anda penyebab kekalahan PDI Perjuangan. Benarkah?

Itu pemikiran yang dangkal. Kalau saya menggusur orang di Jakarta, bukan berarti saya menggembosi PDI Perjuangan. Untuk menertibkan orang di Jakarta, tidak mungkin menunggu sampai kiamat. Lagi pula yang ditertibkan cuma puluhan orang. Apa mungkin PDI Perjuangan kalah karena itu? Selain itu saya juga memberikan subsidi kesehatan dan pendidikan yang nilainya ratusan miliar rupiah. Itu merupakan dukungan terhadap pemerintahan yang sekarang. Jadi mereka harus adil dalam menilai.

Laksamana menilai penggusuran itu simbol yang tak memihak wong cilik?

Dia itu ngarang saja. Dia seperti politisi yang picik. Orang kalah biasanya cari-cari alasan. Dia cuma cari kambing hitam. Saya jadi gubernur didukung oleh Megawati. Jadi tak mungkin mau menggembosi PDI Perjuangan. Kecuali kalau saya punya ambisi tertentu.

Mengapa penggusuran itu dilakukan menjelang pemilu?

Kalau tidak digusur, gubernurnya yang geblek. Hal itu demi kepastian hukum agar investor mau masuk Jakarta. Yang saya gusur adalah para penjarah tanah orang lain. Laksamana Sukardi tak tahu hal itu karena selalu duduk di kursi empuk. Sekarang kalau saya dituding macam-macam oleh orang Partai, saya justru mau tertawa cekakakan.

Bagaimana bila di laporan pertanggungjawaban tahunan Anda diganjal PDI Perjuangan?

Sebelum jadi gubernur, saya ada di pasukan khusus. Hampir di semua tempat bergejolak, saya punya andil untuk mengamankannya. Saya selalu “setor nyawa” dalam melaksanakan tugas. Kalau sekarang cuma urusan jabatan gubernur, tidak saya pikirkan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: