Partai No, Figur Yes

RUANG sidang Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung, Rabu pekan lalu, disesaki ratusan pendukung calon Wali Kota Depok, Badrul Kamal. Hari itu, majelis hakim kembali menggelar persidangan kasus pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok yang berlangsung pada 26 Juni 2005. Badrul Kamal, calon wali kota dari Partai Golkar, tak menerima kekalahannya. Dia menggugat keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Depok ke pengadilan. hBanyak kesalahan yang dilakukan KPU Depok,h ujar Badrul.

Versi Badrul, hasil pemilu Wali Kota Depok periode 2005-2010 cacat hukum. Baginya, kemenangan Nurmahmudi Ismail\yang diusung Partai Keadilan Sejahtera\dinodai oleh pelbagai keanehan. Badrul mengaku menemukan ribuan kartu pemilih yang tak bertuan alias fiktif. Itu sebabnya, Badrul, yang sebelumnya pernah menjadi Wali Kota Depok, berkeras maju ke pengadilan.
Continue reading

KOMISI SEKADAR MENGAUM

MESKI lolos dalam seleksi akhir pemilihan anggota Komisi Kepolisian Nasional, Sukarni Ilyas, 53 tahun, tak tampak antusias. Bila toh ditetapkan presiden sebagai anggota Komisi Kepolisian, Direktur Pemberitaan SCTV ini mengaku tak bisa berbuat banyak.

Sukarni menganggap kewenangan Komisi Kepolisian sangat jauh panggang dari api. “Komisi cuma berhak memberi saran ke presiden,” kata Sukarni. Kegundahan Sukarni tak cuma soal kewenangan.
Continue reading

Menunggu Wahyu dari Yudhoyono

KECEMASAN menerpa Heru Siswanto. Ketua Partai Demokrat yang populer dengan panggilan Sys N.S. itu pekan lalu masygul dengan Rancangan Tata Tertib Kongres Partai Demokrat. Soalnya, dalam rancangan tata tertib itu tak ada larangan bagi pejabat negara maju ke bursa ketua umum partai. hRancangan itu tak sesuai harapan,h ujar Sys N.S. hItu dibuat untuk mengegolkan seseorang.h

Kegundahan Sys N.S. beralasan. Sebagai kandidat ketua umum dalam kongres yang pekan ini digelar di Bali, Sys N.S. harus mencermati tiap pasal dalam rancangan tata tertib. Sejak awal Sys berharap kriteria Ketua Umum Partai Demokrat adalah tokoh yang memiliki waktu untuk membesarkan partai. hSeorang menteri terlalu sibuk dengan urusan negara,h ujarnya.
Continue reading

Ketua BPK, Anwar Nasution: Jangan Pertanyakan Integritas Saya

JALAN Gatot Subroto, suatu siang pekan silam. Gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pekan lalu dijaga superketat bak Jakarta saat kerusuhan. Satu peleton polisi bersenjata dan puluhan satpam siaga mengawasi setiap tamu yang datang. Identitas, barang bawaan, dan tujuan kedatangan setiap tamu diteliti dengan cermat. Petugas keamanan akan mengkonfirmasi kedatangan seseorang lewat telepon internal. Tak jarang pintu gerbang masuk BPK setinggi dua setengah meter tiba-tiba ditutup rapat. hTak boleh lewat sini. Semua harus lewat pintu di belakang,h ujar seorang polisi yang menenteng senjata laras panjang.

Sepekan silam, gedung Badan Pemeriksa Keuangan sedang menjadi sasaran gelombang para demonstran menggugat sikap Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution yang dianggap tak mendukung pemberantasan korupsi. Aksi yang dimotori LSM dan mahasiswa itu sempat meminta Anwar mundur dari jabatan Ketua BPK. Soalnya, Anwar tak mendukung langkah auditor BPK, Khairiansyah, yang ikut menangkap Mulyana W. Kusumah\anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diduga melakukan korupsi. hKhairiansyah bukan intel,h kata Anwar Nasution, hTak perlu ikut-ikutan menjebak Mulyana.h

Untuk menjawab seputar polemik korupsi di KPU, wartawan Tempo Setiyardi, Kamis pekan lalu, mewawancarai Anwar Nasution. Selama dua jam wawancara, Anwar menjawab semua pertanyaan dengan lugas. Berikut kutipannya.
Continue reading

Berharap di Tengah Segudang Masalah

SOSIOLOG Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, tak bisa menahan rasa kecewa. Penggiat Yayasan Nurani Dunia itu rupanya masygul akan komposisi kabinet yang baru diumumkan Presiden Yudhoyono. Karena ia tak masuk? Bukan. “SBY membuat langkah awal yang tak impresif,” katanya. “Kabinetnya sungguh tak meyakinkan.”

Imam menyebut SBY cenderung mengutamakan loyalitas ketimbang kompetensi. Pelbagai pos penting di bidang politik, hukum, dan keamanan diisi oleh tokoh yang dikenal sebagai “all the president’s men”. Publik tak melihat prestasi dan pemikiran mereka yang cukup menonjol.
Continue reading

Subur Budhisantoso: “Saya Siap Digusur dari Partai”

PROFESOR Subur Budhisantoso, 67 tahun, kini menjadi meteor baru di jagat politik Indonesia. Ketua Umum Partai Demokrat ini salah satu figur yang menjadi narasumber penting bagi wartawan. Soalnya, Partai Demokrat, yang dipimpin Budhisantoso, berhasil meraih 57 kursi di parlemen–melebihi perolehan Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tokoh yang diusung Partai Demokrat, menjadi pemenang pemilu presiden 2004. “Saya berhasil menciptakan kendaraan politik buat SBY,” ujar Budhisantoso.

Laksana pohon, semakin tinggi, ia semakin diterpa angin. Budhisantoso, yang baru naik ke “tampuk kekuasaan”, langsung diterpa pelbagai masalah. Pekan lalu, misalnya, beberapa tokoh yang mengaku sebagai anggota Dewan Pendiri Partai Demokrat me-minta Budhisantoso turun dari jabatannya. Soalnya, usia guru besar antropologi UI ini dianggap tak menunjang dinamika partai yang makin kompleks. Belum lagi ancaman Koalisi Kebangsaan di parlemen, yang dinilai dapat membahayakan stabilitas pemerintahan SBY.

Untuk membahas polemik seputar Partai Demokrat dan persiapan pemerintahan SBY, wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu mewawancarai Budhisantoso di rumahnya di kawasan Ciputat, Jakarta. Saat wawancara, beberapa tamu, termasuk yang mengaku pensiunan perwira tinggi TNI, antre untuk bertemu Ketua Partai Demokrat ini. Berikut ini kutipannya.
Continue reading

Harold Crouch: “Dianggap Sekutu Amerika, Australia Jadi Sasaran Teroris”

IA sebenarnya seorang ahli masalah politik militer di Indonesia. Bukunya yang berjudul Army and Politics in Indonesia menjadi klasik dan salah satu acuan yang paling banyak diandalkan. Indonesia bukan “barang baru” bagi Harold Crouch, 69 tahun. Pengalaman Indonesia Crouch istimewa: berbahasa Indonesia dengan baik, pernah menjadi dosen di FISIP Universitas Indonesia, dan bersahabat dengan sejumlah tokoh militer RI.

Tapi, pekan lalu, bom berkekuatan besar meledak. Waktu itu, guru besar Department of Political and Social Change Universitas Nasional Australia ini berada di Kedutaan Besar Australia. Tiada warga Australia yang jadi korban, dan ia hanya menyebut, “Bunyinya memekakkan.” Tapi Crouch setuju dengan langkah cepat pemerintahnya yang langsung mengirim sembilan ahli bom ke Jakarta.
Continue reading