Hamid Awaludin: SAYA JADI SASARAN TEMBAK

ADA yang tak beres pada perut Hamid Awaludin, 45 tahun. Beberapa pekan terakhir, asam lambung Menteri Hukum dan HAM ini meningkat drastis. Pemberitaan tentang korupsi Komisi Pemilihan Umum menyita pikirannya. hSaya pusing,h ujarnya. Komisi Pemberantasan Korupsi dipastikan segera memeriksa bekas anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) itu

Menurut Kepala Biro Keuangan KPU, Hamdani Amin, setiap anggota KPU, termasuk Hamid, menerima huang rekananh US$ 105 ribu. Betulkah? Jumat pekan lalu, kepada wartawan Tempo Setiyardi, Hamid bicara melalui sambungan telepon internasional. Beberapa hari terakhir Hamid berada di Helsinki, Finlandia, untuk berunding dengan petinggi Gerakan Aceh Merdeka.
Continue reading

Advertisements

Ketua BPK, Anwar Nasution: Jangan Pertanyakan Integritas Saya

JALAN Gatot Subroto, suatu siang pekan silam. Gedung Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) di Jalan Gatot Subroto, Jakarta, pekan lalu dijaga superketat bak Jakarta saat kerusuhan. Satu peleton polisi bersenjata dan puluhan satpam siaga mengawasi setiap tamu yang datang. Identitas, barang bawaan, dan tujuan kedatangan setiap tamu diteliti dengan cermat. Petugas keamanan akan mengkonfirmasi kedatangan seseorang lewat telepon internal. Tak jarang pintu gerbang masuk BPK setinggi dua setengah meter tiba-tiba ditutup rapat. hTak boleh lewat sini. Semua harus lewat pintu di belakang,h ujar seorang polisi yang menenteng senjata laras panjang.

Sepekan silam, gedung Badan Pemeriksa Keuangan sedang menjadi sasaran gelombang para demonstran menggugat sikap Ketua Badan Pemeriksa Keuangan Anwar Nasution yang dianggap tak mendukung pemberantasan korupsi. Aksi yang dimotori LSM dan mahasiswa itu sempat meminta Anwar mundur dari jabatan Ketua BPK. Soalnya, Anwar tak mendukung langkah auditor BPK, Khairiansyah, yang ikut menangkap Mulyana W. Kusumah\anggota Komisi Pemilihan Umum (KPU) yang diduga melakukan korupsi. hKhairiansyah bukan intel,h kata Anwar Nasution, hTak perlu ikut-ikutan menjebak Mulyana.h

Untuk menjawab seputar polemik korupsi di KPU, wartawan Tempo Setiyardi, Kamis pekan lalu, mewawancarai Anwar Nasution. Selama dua jam wawancara, Anwar menjawab semua pertanyaan dengan lugas. Berikut kutipannya.
Continue reading

Hasjim Djalal: Malaysia Tak Bersikap sebagai Tetangga Baik

Sengketa di Blok Ambalat membuat orang menengok serius khazanah hukum laut internasional. Di Indonesia, Hasjim Djalal adalah kamus hidup mengenai hal ini. Jalan panjang sudah ditempuh Hasjim. Pada 1961, ia meraih gelar doktor dari Universitas Virginia, Amerika Serikat. Saat itu Hasjim menulis disertasi berjudul The Limit of Territorial Sea in International Laws. Sejak itu, pelbagai posisi penting ia lakoni: mulai dari anggota Dewan Maritim, duta besar urusan laut dan maritim, hingga guru besar di pelbagai universitas. Hasjim juga kerap menjadi wakil Indonesia dalam menyelesaikan kasus tapal batas dengan negara tetangga.

Untuk mengupas sengketa Ambalat, wartawan Tempo Setiyardi dan fotografer Bernard Chaniago pekan lalu mewawancarai Hasjim Djalal.
Continue reading

Amir Syamsuddin: Ibu Tutut Tak Menerima Suap

Kasusnya adalah pembelian 100 unit tank Scorpion dari Alvis Vehicle Ltd., perusahaan senjata asal Inggris. Dari pembelian itulah disebut-sebut Siti Hardijanti Rukmana memperoleh kucuran fee. Transaksi yang terjadi sepuluh tahun silam itu langsung menjadi bola panas. Koran The Guardian dua pekan lalu menjadikannya kepala berita. Koran yang sangat dihormati di Inggris itu membuat liputan berdasarkan dokumen dan pengakuan bekas eksekutif Alvis Vehicle.

Mendapat tudingan serius, Siti Hardijanti Rukmana langsung mengurung diri. Perempuan yang akrab disapa Mbak Tutut ini tak mau menemui wartawan. Permohonan wawancara yang diajukan Tempo tak berbalas. Namun ia menunjuk Pengacara Amir Syamsuddin menjawab semua persoalan seputar pembelian tank Scorpion itu. Dan inilah jawaban Amir Syamsuddin ketika ditanya wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu.
Continue reading

Subur Budhisantoso: “Saya Siap Digusur dari Partai”

PROFESOR Subur Budhisantoso, 67 tahun, kini menjadi meteor baru di jagat politik Indonesia. Ketua Umum Partai Demokrat ini salah satu figur yang menjadi narasumber penting bagi wartawan. Soalnya, Partai Demokrat, yang dipimpin Budhisantoso, berhasil meraih 57 kursi di parlemen–melebihi perolehan Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tokoh yang diusung Partai Demokrat, menjadi pemenang pemilu presiden 2004. “Saya berhasil menciptakan kendaraan politik buat SBY,” ujar Budhisantoso.

Laksana pohon, semakin tinggi, ia semakin diterpa angin. Budhisantoso, yang baru naik ke “tampuk kekuasaan”, langsung diterpa pelbagai masalah. Pekan lalu, misalnya, beberapa tokoh yang mengaku sebagai anggota Dewan Pendiri Partai Demokrat me-minta Budhisantoso turun dari jabatannya. Soalnya, usia guru besar antropologi UI ini dianggap tak menunjang dinamika partai yang makin kompleks. Belum lagi ancaman Koalisi Kebangsaan di parlemen, yang dinilai dapat membahayakan stabilitas pemerintahan SBY.

Untuk membahas polemik seputar Partai Demokrat dan persiapan pemerintahan SBY, wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu mewawancarai Budhisantoso di rumahnya di kawasan Ciputat, Jakarta. Saat wawancara, beberapa tamu, termasuk yang mengaku pensiunan perwira tinggi TNI, antre untuk bertemu Ketua Partai Demokrat ini. Berikut ini kutipannya.
Continue reading

Abdul Wahid Maktub: “Saya Akan Meminta Bantuan Ulama Yusuf Qardhawi”

DUTA Besar Indonesia untuk Qatar, Abdul Wahid Maktub, punya kesibukan baru. Sejak pekan lalu, Wahid Maktub harus bolak-balik ke kantor pusat Al-Jazeera di Doha, Qatar. Soalnya, stasiun Al-Jazeera baru saja menayangkan video penyanderaan dua pekerja wanita Indonesia di Irak. Dari tayangan Al-Jazeera, dua sandera itu diidentifikasi sebagai Rosidah binti Anom dan Rafikan binti Anim. Tak ada informasi lain. “Kami tak punya kontak selain Al-Jazeera,” ujar Wahid. Tapi Wahid berjanji melakukan negosiasi untuk membebaskan kedua sandera.

Penyanderaan Rosidah dan Rafikan langsung menuai perhatian publik Indonesia. Maklum, Irak kini menjadi negeri antah-berantah yang “tak berhukum”. Sejak jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein tahun lalu, tercatat 140 warga negara asing telah diculik. Dan 26 orang di antaranya dipastikan telah dieksekusi. Untuk mendiskusikan pelbagai langkah untuk membebaskan Rosidah dan Rafikan, wartawan Tempo Setiyardi dan Johan Budi S.P. mewawancarai Duta Besar RI di Qatar, Abdul Wahid Maktub, lewat sambungan telepon internasional.

Berikut kutipannya:
Continue reading

Ichlasul Amal: “Keputusan Hakim Mencederai Demokrasi”

KEPUTUSAN Pengadilan Negeri Jakarta Pusat yang memvonis Pemimpin Redaksi Tempo Bambang Harymurti menuai reaksi pelbagai kalangan. Ketua Dewan Pers Ichlasul Amal, misalnya, menyatakan vonis itu tak sesuai dengan semangat reformasi. Menurut bekas Rektor Universitas Gadjah Mada ini, salah satu tujuan utama reformasi adalah membuka kebebasan pers dan berekspresi. “Sungguh sayang bila kita set back seperti dulu,” ujar Ichlasul Amal.

Apa sikap Dewan Pers terhadap kasus Tempo versus Tomy Winata? Mengapa para hakim masih menggunakan pasal peninggalan kolonial Belanda untuk mengadili perkara pers? Wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu mewawancarai Ichlasul Amal di Gedung Dewan Pers, Jakarta. Berikut ini kutipannya.
Continue reading