Sejuta Mimpi di Las Vegas

CUACA bersahabat bulan lalu menyambut Tempo yang mendarat di Las Vegas, Amerika Serikat. Suhu 14 derajat Celsius pada sore itu sungguh melegakan. Menjejakkan kaki di selasar bandara, aroma kota judi langsung membekap. Deretan mesin judi, mulai dari Slot Machine hingga Wheel of Fortune, tiap hari menyambut ribuan penumpang yang baru turun dari pesawat terbang.

Semua itu dilegalkan oleh pemerintah Amerika. Sebuah papan di luar ruang, dengan lampu berpendar terang, menyiratkan sederet pesan: “Konstitusi Negara Bagian Nevada mengizinkan judi di Las Vegas. Aturan ini tak berlaku bagi anak di bawah usia 18 tahun.”
Continue reading

Pojok Peradaban di New York dan Chicago

SAYA merasa terpelanting ke empat ribu tahun silam,” kata John R. Cohen, 45 tahun, seorang pengunjung Metropolitan Museum of Art, New York.

Di hadapan Pak Cohen memang ada patung Sphinx Senworset III (1878-1841 SM) yang dingin. Tapi entahlah, melalui tatapan matanya, penguasa dinasti kedua belas kerajaan Mesir kuno itu seakan datang ke New York dengan tujuan yang tunggal: menjemput sekaligus menjebloskan pengunjung ke dalam periode hidupnya.
Continue reading

Operasi Aceh Raksasa Terapung

SEMBURAT matahari baru muncul di ufuk timur Samudra Hindia. Tapi deru sepuluh helikopter Saberhawk di kapal induk USS Abraham Lincoln mulai memekakkan telinga. Pilot, awak heli, dan petugas landasan bergegas bekerja. Puluhan kotak makanan, minuman, dan obat-obatan diangkut ke dalam heli yang siap tinggal landas. Setelah mendapat lampu hijau, pilot Kevin Ferguson, 37 tahun, beraksi. “Take off position,” ujar Kevin Ferguson. Selasa pekan lalu, Kevin mengangkut puluhan kotak logistik itu ke Meulaboh, di pantai barat Aceh.

Bantuan itu jelas ditujukan untuk korban gempa dan tsunami yang sudah menewaskan lebih dari 101 ribu orang. Dahsyatnya bencana itulah yang membuat kapal induk USS Abraham Lincoln merapat ke Pantai Meulaboh. Sejak Minggu dua pekan lalu, 5.000 anggota pasukan Amerika Serikat di kapal induk\terdiri dari pilot, awak pesawat, tim medis, dan awak kapal\melakukan operasi khusus di Aceh. Mereka menjadi bagian dari tim yang masuk Aceh untuk misi kemanusiaan internasional. “Saya belum pernah melihat kehancuran seperti di Aceh,” ujar Kevin Ferguson, “Mayat di mana-mana.”
Continue reading

KENANGAN YANG TERSIMPAN DI MEMPHIS

TERPAMPANG di dinding Museum Stax, kalimat itu seolah melempar kita ke empat ratus tahun silam, saat musik menjadi “alat pembebasan” budak kulit hitam di Memphis. Lewat musik, terutama jenis blues yang menyayat hati, mereka berusaha mengusir kesedihan sambil menabur mimpi. Semua jejak perjalanan musik ini terekam rapi dalam Museum Stax.

Museum yang terletak di 926 East McLemore Avenue itu kini menjadi salah satu ikon penting Kota Memphis, Tennessee\sebuah negara bagian Amerika Serikat yang mayoritas penduduknya beretnis Afrika-Amerika. Karena itu, ketika melawat ke kota ini dua pekan lalu, Tempo amat tertarik menengok museum yang didirikan pada 1958 itu.
Continue reading

Abdul Wahid Maktub: “Saya Akan Meminta Bantuan Ulama Yusuf Qardhawi”

DUTA Besar Indonesia untuk Qatar, Abdul Wahid Maktub, punya kesibukan baru. Sejak pekan lalu, Wahid Maktub harus bolak-balik ke kantor pusat Al-Jazeera di Doha, Qatar. Soalnya, stasiun Al-Jazeera baru saja menayangkan video penyanderaan dua pekerja wanita Indonesia di Irak. Dari tayangan Al-Jazeera, dua sandera itu diidentifikasi sebagai Rosidah binti Anom dan Rafikan binti Anim. Tak ada informasi lain. “Kami tak punya kontak selain Al-Jazeera,” ujar Wahid. Tapi Wahid berjanji melakukan negosiasi untuk membebaskan kedua sandera.

Penyanderaan Rosidah dan Rafikan langsung menuai perhatian publik Indonesia. Maklum, Irak kini menjadi negeri antah-berantah yang “tak berhukum”. Sejak jatuhnya pemerintahan Saddam Hussein tahun lalu, tercatat 140 warga negara asing telah diculik. Dan 26 orang di antaranya dipastikan telah dieksekusi. Untuk mendiskusikan pelbagai langkah untuk membebaskan Rosidah dan Rafikan, wartawan Tempo Setiyardi dan Johan Budi S.P. mewawancarai Duta Besar RI di Qatar, Abdul Wahid Maktub, lewat sambungan telepon internasional.

Berikut kutipannya:
Continue reading

Harold Crouch: “Dianggap Sekutu Amerika, Australia Jadi Sasaran Teroris”

IA sebenarnya seorang ahli masalah politik militer di Indonesia. Bukunya yang berjudul Army and Politics in Indonesia menjadi klasik dan salah satu acuan yang paling banyak diandalkan. Indonesia bukan “barang baru” bagi Harold Crouch, 69 tahun. Pengalaman Indonesia Crouch istimewa: berbahasa Indonesia dengan baik, pernah menjadi dosen di FISIP Universitas Indonesia, dan bersahabat dengan sejumlah tokoh militer RI.

Tapi, pekan lalu, bom berkekuatan besar meledak. Waktu itu, guru besar Department of Political and Social Change Universitas Nasional Australia ini berada di Kedutaan Besar Australia. Tiada warga Australia yang jadi korban, dan ia hanya menyebut, “Bunyinya memekakkan.” Tapi Crouch setuju dengan langkah cepat pemerintahnya yang langsung mengirim sembilan ahli bom ke Jakarta.
Continue reading

DARI SEORANG AKTRIS HOLLYWOOD

HEDY Lamarr tak hanya cantik dan memiliki bakat berakting yang sempat membuatnya jadi pujaan penonton di Amerika Serikat. Aktris Hollywood ini juga pandai dalam urusan teknologi mesin perang canggih. Bersama George Antheil, rekannya, pada 1940 Lamarr menciptakan konsep baru untuk sistem kontrol torpedo. Agar torpedo mencapai sasaran dengan tepat, ia menerapkan konsep “pola acak” (random pattern) pada sinyal frekuensi radio. Pola yang berupa kode khusus itu dibuat agar tak mudah dipecahkan oleh musuh. Alhasil, torpedo-torpedo Amerika yang digunakan dalam Perang Dunia II (1942-1945) dilengkapi dengan teknologi karyanya.

Belakangan, para ilmuwan dari Sylvania Electronic System di New York mengembangkan konsep Lamarr. Perusahaan pemasok teknologi militer bagi Pentagon ini menerapkan ide Lamarr untuk kepentingan komunikasi militer yang bersifat sangat rahasia. Teknologi sistem komunikasi ini kemudian disebut sebagai CDMA (code division multiple access). Pentagon pertama kali menggunakannya pada saat krisis rudal dengan Kuba pada 1962. Saat itu Pentagon sangat menyukainya karena triliunan kombinasi kode membuat sinyal informasi yang dikirim tak bisa dibaca lawan.
Continue reading