Partai No, Figur Yes

RUANG sidang Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung, Rabu pekan lalu, disesaki ratusan pendukung calon Wali Kota Depok, Badrul Kamal. Hari itu, majelis hakim kembali menggelar persidangan kasus pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok yang berlangsung pada 26 Juni 2005. Badrul Kamal, calon wali kota dari Partai Golkar, tak menerima kekalahannya. Dia menggugat keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Depok ke pengadilan. hBanyak kesalahan yang dilakukan KPU Depok,h ujar Badrul.

Versi Badrul, hasil pemilu Wali Kota Depok periode 2005-2010 cacat hukum. Baginya, kemenangan Nurmahmudi Ismail\yang diusung Partai Keadilan Sejahtera\dinodai oleh pelbagai keanehan. Badrul mengaku menemukan ribuan kartu pemilih yang tak bertuan alias fiktif. Itu sebabnya, Badrul, yang sebelumnya pernah menjadi Wali Kota Depok, berkeras maju ke pengadilan.
Continue reading

Jusuf Kalla: “Saya Memang Oportunis”

HARI itu, Rabu pekan lalu, air hujan tumpah dari langit Jakarta nyaris tiada henti. Tapi, sementara radio dan televisi mulai memberitakan kemacetan parah yang melanda seantero ibu kota Republik, perhatian Jusuf Kalla, 62 tahun, tercurah ke tempat lain. Ucu–begitu panggilan Kalla di kampung kelahirannya di Watampone, Makassar–bergegas meninggalkan kantornya di Merdeka Barat. Bekas Menteri Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat ini berusaha menembus kemacetan, menuju rumahnya di Jalan Brawijaya, Jakarta Selatan. “Banyak tamu penting yang menunggu di rumah,” ucapnya.

Jusuf Kalla memang makin sibuk. Setelah mundur dari konvensi calon presiden Partai Golkar, Kalla melakukan manuver politik yang–di mata sejumlah kalangan–dipandang genius. Ia memilih berduet dengan Susilo Bambang Yudhoyono dalam pemilu presiden/wakil presiden 5 Juli 2004 mendatang. Keputusan itu membuat Kalla langsung meroket. Maklum, Susilo merupakan calon presiden yang namanya tengah menjulang.
Continue reading

Surya Paloh: “Masih Banyak Koruptor di Partai Golkar”

HARI masih muda ketika Surya Dharma Paloh, 53 tahun, bergegas menaiki pesawat pribadinya di Bandar Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Beberapa stafnya, termasuk seorang pengawal yang selalu menenteng sepucuk pistol di pinggang, mengikuti langkah Surya. Hari Minggu lalu, salah satu peserta konvensi calon presiden Partai Golkar ini berkampanye di Provinsi Lampung.

Di samping tangga pesawat bekas milik Ratu Inggris itu, kapten dan kru pesawat lainnya memberikan hormat. Dengan mantap Surya menapaki tiap anak tangga. Ia masuk ke kabin khusus pesawat jet tipe BAe 146 yang berkapasitas 50 penumpang itu. Begitu duduk, Surya langsung “menyantap” semua koran pagi dengan cepat. Lelaki yang memelihara cambang ini mengabaikan tawaran jus segar dari sang pramugari. Mendadak wajah Surya berubah jadi masygul. Pilot pesawat datang dan melaporkan pesawat tak bisa segera lepas landas karena Presiden Megawati baru tiba di bandara. “Sial, ada pencekalan di mana-mana,” ujar Surya.
Continue reading