Repotnya Menyeret Sang Jenderal

LETNAN Jenderal Sjafrie Sjamsoeddin, 52 tahun, sejak dua pekan lalu puasa bicara. Sekretaris Jenderal Departemen Pertahanan yang biasanya ramah kepada wartawan ini melakukan aksi tutup mulut. Ia enggan bertemu wartawan. Telepon genggam yang biasanya selalu ditenteng kini berpindah ke ajudan. “Saya tak mau berkomentar soal penculikan,” ujar Sjafrie kepada wartawan, suatu saat.

Diamnya Sjafrie itu memang terkait dengan posisinya yang kini tengah menjadi target pemanggilan Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM). Maklum, bekas Panglima Kodam Jakarta ini dianggap ikut bertanggung jawab atas kasus penculikan belasan aktivis penentang rezim Soeharto. Ia tak sendirian menghadapi “kerepotan” ini. Bersamanya, juga dipanggil Wiranto (bekas Panglima ABRI) dan Prabowo Subianto (bekas Komandan Jenderal Kopassus) oleh tim khusus bentukan Komnas HAM. Tim ini memang bertugas mengorek informasi dari para jenderal itu soal raibnya 14 aktivis sepanjang 1997 dan 1998.
Continue reading

Advertisements

Abdul Hakim Garuda Nusantara: “Pengaruh Militer Terasa di Pengadilan Hak Asasi”

AROMA kematian itu seakan masih tercium. Di Tanjung Priok, 20 tahun silam, peristiwa berdarah itu pecah. Dan Abdul Hakim Garuda Nusantara, seorang pemuda aktivis hak asasi yang bekerja paruh waktu di Lembaga Bantuan Hukum (LBH), juga mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Indonesia, tak bisa melupakannya. Bahkan hingga ia menduduki posisi Ketua Komnas HAM sekarang ini.

“Jelas, ada pelanggaran hak asasi berat dalam Kasus Tanjung Priok,” tutur Abdul Hakim. Dengan lantang pula, Abdul Hakim menyebut L.B. Moerdani (bekas Menteri Pertahanan-Keamanan/Panglima ABRI) dan Try Sutrisno (bekas Panglima Kodam Jaya) sebagai pejabat yang harus “bertanggung jawab” atas tragedi yang menewaskan puluhan demonstran itu. (Abdul Qadir Djaelani, salah seorang terpidana Kasus Tanjung Priok, kepada TEMPO menyebut korban jiwa mencapai 300 orang).
Continue reading

Yusril Ihza Mahendra: “Saya Tidak Happy”

DOKTOR Yusril Ihza Mahendra tengah jadi sorotan. Menteri Kehakiman dan Hak Asasi Manusia Kabinet Gotong-Royong ini “mengeluhkan” persoalan yang sangat sensitif: minimnya gaji seorang menteri. “Gaji 19 juta perak itu tak berarti apa-apa,” ujarnya. Inilah keluhan pertama seorang menteri aktif yang dilakukan secara terbuka.

Seperti mendapat umpan lambung, pernyataan kontroversial Yusril langsung disambut para politikus. Prof. J.E. Sahetapy, anggota Komisi II DPR, yang membawahkan bidang hukum, langsung angkat bicara. Sahetapy menilai Yusril tak pantas mengeluhkan soal gajinya. Sahetapy menuding Yusril terlalu menghamburkan gaji untuk kepentingan Partai Bulan Bintangpartai yang menjadi kendaraan politiknya. Kalau tak cocok dengan gaji, “Yusril sebaiknya mundur dari kabinet,” ujar Sahetapy, lantang. Continue reading

Habis Gelap di Mangelsen

BULAN muda sudah lama lingsir dari langit. Larut malam membekap Mangelsen, bagian barat Nepal. Tiba-tiba, seperti angin yang kalap, ratusan orang menghambur dari perbukitan ke tengah kota. Paras mereka berbalur jelaga, mata hatinya berbalut dendam. Dengan tangan mencengkam granat, bedil, atau pisau, mereka menyergap markas-markas polisi dan tentara.

Malam itu, pertengahan Februari lalu, Nepal kembali dibangunkan mimpi buruk. Lebih dari 150 orang, bukan hanya polisi dan tentara tapi juga warga sipil, tewas dibantai gerilyawan komunis. Bank dibakar, uangnya dijarah. Gedung-gedung diledakkan. Ini merupakan kekejian paling brutal sejak penganut ajaran Mao Zedong itu mengangkat senjata melawan pemerintahan Kathmandu, enam tahun silam. Continue reading

Perempuan di Balik Kepulan Asap Cerutu

DI balik asap cerutu yang mengepul, wajah seorang perempuan tampil. hSaya cuma seorang jaksa yang gemar merokok,h kata yang empunya wajah. Sebuah wajah yang kini menghiasi kulit muka koran-koran di seluruh dunia. Dialah Carla del Ponte, 55 tahun, yang namanya menjadi pembicaraan tentu saja bukan karena kegemarannya mengisap batang cerutu. Janda beranak satu ini memiliki kegemaran lain yang luar biasa: menyeret penjahat perang ke penjara.

Dia kini menjadi ikon dunia dalam penegakan hukum dan hak asasi manusia. Tokoh kelahiran Swiss ini, sejak 11 Agustus 1999 lalu, didaulat menjadi jaksa penuntut dalam kasus bekas Presiden Yugoslavia Slobodan Milosevic dan kasus genocide 800 ribu penduduk Rwanda. Kedua kasus yang menyita perhatian dunia tersebut tengah disidangkan di pengadilan internasional Hague, di Kota Den Haag, Belanda. hIa tokoh yang berintegritas, keras, dan tak kenal kompromi,h kata Sekretaris Jenderal PBB Kofi Annan. Continue reading

Panggung (Bukan) Sandiwara bagi Milosevic

PERTENGAHAN April yang hangat, di pedalaman Serbia. Serombongan petani, sebagian besar ibu-ibu bersama anak-anaknya, dengan beban berat di pundak, mendaki lereng menuju kampung di puncak bukit. Mereka dalam perjalanan pulang kembali dari pengungsian. Tiba-tiba hujan bom dari udara menyapu rombongan rapuh itu, seperti badai insektisida melumatkan sekelompok kupu-kupu.

Tubuh-tubuh remuk, bergelimpangan. Tangan kaki tanpa nyawa, dan paras yang tidak lagi bisa dikenali…. Continue reading