Jalan Terjal Niciren Syosyu

BROSUR dan cakram digital itu memang rada “istimewa”. Dibagikan ke pelbagai media di Jakarta, isinya foto-foto “tak senonoh” Biksu Abe Nikken, yang datang mengunjungi Indonesia pekan lalu. Foto-foto itu memperlihatkan biksu tertinggi agama Buddha Niciren Syosyu sedunia itu berpose dengan para geisha\wanita penghibur khas Jepang. Brosur itu juga berisi kisah berbagai “tindakan kriminal” para biksu Niciren Syosyu.

“Itu tindakan keji,” kata Pandita Aiko Senosoenoto, menanggapi aksi Forum Kerukunan Umat Beragama (Forkubi), yang membagi-bagikan brosur dan CD itu. “Biksu tertinggi Abe Nikken tak melakukan pesta seks,” Ketua Pandita Agama Buddha Niciren Syosyu Indonesia itu menambahkan. Forkubi juga membawa 300 demonstran ke Departemen Agama dan Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia, meminta pemerintah melarang Biksu Abe Nikken, yang asal Jepang itu, masuk Indonesia.
Continue reading

Advertisements

Sutiyoso: “Ketua PBSI Adalah Jabatan Rugi”

SUASANA di Restoran Golf Club, Senayan, Rabu pekan lalu tampak meriah. Ada prasmanan dengan menu lengkap, ada alunan musik hidup. Siang itu, Sutiyoso, yang baru terpilih menjadi Ketua Pengurus Besar Persatuan Bulutangkis Seluruh Indonesia (PBSI), punya hajat penting. Ia mengumpulkan seluruh pengurus PBSI dan para atlet yang akan segera berangkat ke Olimpiade di Athena, Yunani. Pensiunan jenderal bintang tiga itu memompakan semangat kepada para atlet. “Demi Merah-Putih, kalau perlu kalian mati di lapangan,” ujar Sutiyoso. Retoris, tapi itulah Sutiyoso.

Ia memang punya mimpi besar. Orang nomor satu di DKI Jakarta ini berambisi mendongkrak prestasi bulu tangkis nasional yang tengah anjlok. Bersama beberapa nama besar seperti Tan Joe Hok, Rudy Hartono, Icuk Sugiarto, dan Imelda Wiguna, ia mencoba mengembalikan pamor bulu tangkis Indonesia.
Continue reading

Harry Tjan Silalahi: “Perayaan Imlek Hampir Kebablasan”

KALIMAT gong xi fat cai mendadak jadi populer. Ibu rumah tangga, mahasiswa, presenter beken di layar televisi, hingga Presiden Megawati ikut latah mengucapkan ungkapan yang kurang-lebih berarti “semoga keberkahan melimpah” itu. Warna merah, atraksi barongsai dan liong pun mendominasi pelbagai kota besar seperti Jakarta, Bandung, Medan, dan Surabaya. Ya…, pekan lalu semua orang seperti hanyut dalam kehebohan perayaan tahun baru Imlek.

Memang Imlek tahun ini terasa spesial. Meski banyak kota tak diguyur hujan saat perayaan tahun baru Cina ini–yang secara tradisional dipercaya sebagai pertanda banyak rezeki–kendurinya tetap meriah. Bahkan sampai membuat seorang Harry Tjan Silalahi khawatir akan muncul dampak negatif akibat perayaan Imlek yang dianggapnya cenderung wah tersebut. Bagi tokoh berusia 70 tahun yang tetap mengaku sebagai Tionghoa ini, ada potensi destruktif bila perayaan Imlek kebablasan. “Akan jadi bumerang yang merugikan,” ujarnya. Continue reading

Untuk Anak Muda Borjuis di Jakarta

DERETAN “kontainer raksasa” itu terlihat seolah sedang berputar kencang. “Kontainer” dengan warna menyala\hijau pupus, oranye, biru benhur, dan merah\tersebut langsung menyedot perhatian kita yang sedang melalui Jalan M.H. Thamrin, Jakarta. Di kawasan elite, di antara gedung kedutaan, bank-bank ternama, dan perkantoran multinasional, Anda akan menemukan tempat hiburan funky di bawah naungan nama Plasa X-Center.
Continue reading

Yang Tua, yang Bernyanyi

SYAHDAN, Orpheus, tokoh dalam mitologi Yunani kuno, menyanyi dengan suara menyayat. Ia mempersembahkan nyanyian itu untuk Eurydice, istrinya yang meninggal dipagut ular beracun. Rupanya, suara kesedihan Orpheus menggugah hati Hardes, dewa penguasa kehidupan manusia. “Berkat lagumu, kuberikan kembali kehidupan Eurydice,” titah Hardes. Dan Eurydice pun kembali ke dalam pelukan Orpheus.

Nyanyian, tak cuma bagi Orpheus dan Eurydice, memang telah menjadi sumber kehidupan. Tak percaya? Lihatlah betapa bersemangatnya orang-orang yang sudah berumur berlatih menyanyi. Pada saat telah memasuki “usia senja”, mereka justru menghidupkan hari-hari dengan bernyanyi dan bernyanyi. Hj. Emma M. Kahar, 64 tahun, misalnya, setiap pekan tak pernah absen berlatih vokal bersama belasan temannya. Sejak 1986, nenek dua cucu ini getol berlatih di Bina Vokalia, Jakarta.

Hasilnya? Meski tak sempat menjadi penyanyi ngetop, Emma lebih dari sekadar penyanyi di kamar mandi. Perempuan berkerudung ini sekarang berani tampil di muka umum. Dalam beberapa kali kesempatan, ia bahkan menambal kekosongan acara dengan menyanyikan lagu-lagu favoritnya. Pada acara pemilihan Mojang dan Jajaka Sunda di Kompleks Bidakara, Jakarta, bulan lalu, misalnya, Emma sempat menyanyikan beberapa lagu. “Pokoknya, saya jadi pede untuk tampil di acara apa pun,” ujarnya, sumringah. Continue reading

Pasung dari Senayan

ATMAKUSUMAH Astraatmadja berang bukan kepalang. hIni rancangan undang-undang paranoid,h katanya. Kekecewaan tokoh Dewan Pers ini bersumber di Senayan. Pekan lalu, para wakil rakyat dan pemerintah baru saja merampungkan naskah final Rancangan Undang-Undang Penyiaran. Dalam draf yang terdiri dari 63 pasal tersebut, nyata nian media televisi dan radio lagi dipasangi tali kekang ekstraketat berupa sederet pembatasan, larangan, bahkan ancaman penjara.

Tengok misalnya Pasal 53, yang menyebutkan akan dibentuk penyidik khusus bidang siaran dengan kewenangan mahaluas: dari memanggil awak berita, memeriksa perlengkapan siaran, menyetop siaran, hingga menyeret orang ke meja hijau. hKita sedang kembali ke zaman penjajahan Jepang,h ujar Atmakusumah kian marah. Continue reading

Ali Sadikin : Demi Judi, Saya Rela Masuk Neraka

ALI Sadikin tak pernah lepas dari kontroversi. Bekas Gubernur Daerah
Khusus Ibu Kota Jakarta (1966-1977) ini kembali mengusung “ide liar”. Di
depan anggota DPRD Jakarta, bulan lalu ia mengusulkan agar bisnis judi di
Jakarta mendapat payung hukum. Sebab, “Pemda DKI Jakarta bisa mendapat uang
Rp 15 triliun per tahun,” ujar Ali Sadikin, mantap.
Continue reading