Partai No, Figur Yes

RUANG sidang Pengadilan Tinggi Jawa Barat di Bandung, Rabu pekan lalu, disesaki ratusan pendukung calon Wali Kota Depok, Badrul Kamal. Hari itu, majelis hakim kembali menggelar persidangan kasus pemilihan kepala daerah (pilkada) Depok yang berlangsung pada 26 Juni 2005. Badrul Kamal, calon wali kota dari Partai Golkar, tak menerima kekalahannya. Dia menggugat keputusan Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Depok ke pengadilan. hBanyak kesalahan yang dilakukan KPU Depok,h ujar Badrul.

Versi Badrul, hasil pemilu Wali Kota Depok periode 2005-2010 cacat hukum. Baginya, kemenangan Nurmahmudi Ismail\yang diusung Partai Keadilan Sejahtera\dinodai oleh pelbagai keanehan. Badrul mengaku menemukan ribuan kartu pemilih yang tak bertuan alias fiktif. Itu sebabnya, Badrul, yang sebelumnya pernah menjadi Wali Kota Depok, berkeras maju ke pengadilan.
Continue reading

Subur Budhisantoso: “Saya Siap Digusur dari Partai”

PROFESOR Subur Budhisantoso, 67 tahun, kini menjadi meteor baru di jagat politik Indonesia. Ketua Umum Partai Demokrat ini salah satu figur yang menjadi narasumber penting bagi wartawan. Soalnya, Partai Demokrat, yang dipimpin Budhisantoso, berhasil meraih 57 kursi di parlemen–melebihi perolehan Partai Amanat Nasional dan Partai Kebangkitan Bangsa. Selain itu, Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), tokoh yang diusung Partai Demokrat, menjadi pemenang pemilu presiden 2004. “Saya berhasil menciptakan kendaraan politik buat SBY,” ujar Budhisantoso.

Laksana pohon, semakin tinggi, ia semakin diterpa angin. Budhisantoso, yang baru naik ke “tampuk kekuasaan”, langsung diterpa pelbagai masalah. Pekan lalu, misalnya, beberapa tokoh yang mengaku sebagai anggota Dewan Pendiri Partai Demokrat me-minta Budhisantoso turun dari jabatannya. Soalnya, usia guru besar antropologi UI ini dianggap tak menunjang dinamika partai yang makin kompleks. Belum lagi ancaman Koalisi Kebangsaan di parlemen, yang dinilai dapat membahayakan stabilitas pemerintahan SBY.

Untuk membahas polemik seputar Partai Demokrat dan persiapan pemerintahan SBY, wartawan Tempo Setiyardi pekan lalu mewawancarai Budhisantoso di rumahnya di kawasan Ciputat, Jakarta. Saat wawancara, beberapa tamu, termasuk yang mengaku pensiunan perwira tinggi TNI, antre untuk bertemu Ketua Partai Demokrat ini. Berikut ini kutipannya.
Continue reading

Komaruddin Hidayat: “KPU Menganggap Kami Pengganggu”

ADA kegairahan baru di pelbagai pelosok Republik. Pemilu 5 Juli 2004 lalu, pemilu presiden langsung pertama kali, membuat jutaan rakyat menggelegak. Liputan dan tayangan penghitungan sementara hasil pemilu di layar televisi menyedot perhatian publik. Tak terkecuali seorang Komaruddin Hidayat, 51 tahun, yang hanyut dalam kemeriahan pemilu. “Pemilu ini jembatan emas untuk keluar dari keterpurukan,” ujar Komaruddin Hidayat.

Ambisius sekali, tapi Komaruddin memang layak menggelora. Sebagai Ketua Panitia Pengawas Pemilu (Panwaslu), ia terlibat langsung dengan seluruh ingar-bingar pemilu. Dari Century Tower di kawasan Kuningan, Jakarta, guru besar Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah ini memantau tiap tahapan pemilu. Komaruddin memiliki 17 ribu peng- awas di seluruh penjuru negeri. “Untuk menjalankan tugas pengawasan,” ujar Komaruddin, “kami menghabiskan dana Rp 400 miliar.”
Continue reading

Hamzah Haz: “Jangan Percaya Hasil Polling”

HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah berkampanye untuk pemilu presiden 5 Juli mendatang. Bersama Agum Gumelar, seorang pensiunan jenderal, Hamzah getol menyambangi (calon) konstituennya. “Kalau Allah mengizinkan, saya bisa menang,” ujar Hamzah, sangat percaya diri.

Hamzah memang harus memupuk kepercayaan dirinya. Maklum, “Si Peci Miring” kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, ini bukan calon presiden yang populer. Pelbagai jajak pendapat (polling) selalu menunjukkan pasangan Hamzah-Agum menempati posisi nomor buncit. Mayoritas responden menilai duet Hamzah-Agum tak cukup kapabel untuk menuntaskan pelbagai persoalan bangsa. Soalnya, track record Hamzah selama menjadi wakil presiden dinilai tak memuaskan publik.
Continue reading

Serial Konflik Elite

MAYJEN TNI (Purn.) Kivlan Zen, 58 tahun, membuat pentas politik pemilihan presiden “hangat-hangat kuku”. Soalnya, pensiunan jenderal kelahiran Langsa, Aceh, ini meluncurkan buku Konflik dan Integrasi TNI AD. Dalam buku setebal 178 halaman itu, bekas Kepala Staf Komando Strategis Cadangan Angkatan Darat (Kostrad) ini menulis perihal konflik antarperwira tinggi di kalangan TNI Angkatan Darat. Termasuk konflik yang melibatkan Jenderal (Purn.) Wiranto, yang tengah getol berkampanye untuk pemilu presiden. Salah satu bab dari buku itu mengungkap aktivitas masa lalu Wiranto. Kivlan, misalnya, menganggap Wiranto harus bertanggung jawab atas tragedi Mei 1998 dan pembentukan Pam Swakarsa.
Continue reading

Wiranto di Sana, Prabowo di Sini

KABUT misteri masih membekap Tragedi Mei 1998. Hingga kini, tragedi yang menurut Tim Gabungan Pencari Fakta telah menewaskan 1.217 orang itu tak jelas juntrungannya. Pelbagai versi cerita masih menjadi silang pendapat. Jenderal (Purn.) Wiranto dan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, dua tokoh utama drama berdarah itu, saling melempar opini publik. Keduanya telah merilis “buku putih” dengan versi yang berbeda.

Dalam buku Bersaksi di Tengah Badai, Jenderal TNI (Purn.) Wiranto bertutur soal sepotong perjalanan hidupnya. Buku yang diterbitkan pada April 2003 lalu itu dibuat sebagai “klarifikasi” atas berbagai tudingan miring kepadanya. Soal Tragedi Mei 1998, misalnya, Wiranto menghabiskan 11 bab khusus. Wiranto, yang kini menjadi calon presiden dari Partai Golkar, menguraikan latar belakang dan inside story huru-hara yang berbuntut tumbangnya rezim Soeharto itu.
Continue reading

K.H. Hasyim Muzadi: “Saya Tak Perlu Restu Gus Dur”

K.H. Hasyim Muzadi, 60 tahun, bak sebuah magnet besar. Puluhan kiai dan pengurus Nahdlatul Ulama mulai merapat ke Hasyim. Maklum, Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU) ini pekan lalu resmi mendaftar sebagai peserta pemilu presiden/wakil presiden. Hasyim menjadi calon wakil presiden dari Megawati Soekarnoputri–duet yang diduga berpeluang lolos dalam putaran pertama pemilu presiden.

Selesai mendaftar di Komisi Pemilihan Umum, Hasyim bergerak cepat. Di rumahnya, di kawasan elite Dukuh Patra Kuningan, Jakarta, puluhan tamu terus berdatangan. Ada yang memberi dukungan, ada juga yang memberi saran dan strategi. Semua ditanggapi Hasyim dengan serius. K.H. Said Aqil Siradj (Rais Syuriah PBNU) dan K.H. Noer Iskandar S.Q. (pengasuh Pesantren As-Shiddiqiyah, Jakarta) terlihat aktif menggalang kekuatan. Berkali-kali Said Aqil, misalnya, memberikan telepon genggamnya kepada Hasyim. “Ini SMS dukungan dari daerah-daerah,” ujar Said Aqil kepada Hasyim. Hasyim mengambil kacamata dan membaca beberapa pesan singkat itu. Sejurus, ia pun tertawa renyah.
Continue reading