KOMISI SEKADAR MENGAUM

MESKI lolos dalam seleksi akhir pemilihan anggota Komisi Kepolisian Nasional, Sukarni Ilyas, 53 tahun, tak tampak antusias. Bila toh ditetapkan presiden sebagai anggota Komisi Kepolisian, Direktur Pemberitaan SCTV ini mengaku tak bisa berbuat banyak.

Sukarni menganggap kewenangan Komisi Kepolisian sangat jauh panggang dari api. “Komisi cuma berhak memberi saran ke presiden,” kata Sukarni. Kegundahan Sukarni tak cuma soal kewenangan.
Continue reading

Advertisements

Berharap di Tengah Segudang Masalah

SOSIOLOG Universitas Indonesia, Imam B. Prasodjo, tak bisa menahan rasa kecewa. Penggiat Yayasan Nurani Dunia itu rupanya masygul akan komposisi kabinet yang baru diumumkan Presiden Yudhoyono. Karena ia tak masuk? Bukan. “SBY membuat langkah awal yang tak impresif,” katanya. “Kabinetnya sungguh tak meyakinkan.”

Imam menyebut SBY cenderung mengutamakan loyalitas ketimbang kompetensi. Pelbagai pos penting di bidang politik, hukum, dan keamanan diisi oleh tokoh yang dikenal sebagai “all the president’s men”. Publik tak melihat prestasi dan pemikiran mereka yang cukup menonjol.
Continue reading

Harry Roesli: “Rakyat Cuma Dikibulin Elite Politik”

KITA kenal sosok yang suka berpakaian hitam-hitam ini. Kuliah di Jurusan Teknik Mesin Institut Teknologi Bandung (ITB), tiga kali masuk penjara saat usianya 20-an tahun. Harry Roesli memang tidak pernah merampungkan kuliahnya. Pada 1978, ia keluar dari sekolah teknik tersebut, tapi tak kunjung beranjak dari tiga hal: sosok seorang “anak nakal”, kritis terhadap para aktor politik negeri ini, dan menggeluti musik.

Bahkan terakhir, setelah Soeharto lengser pada 1998 dan zaman berubah, ia sempat membuat sebuah “kenakalan” kritis. Dengan sebuah gitar di tangan, ia menyanyi, memelesetkan satu lagu wajib yang telah berpuluh tahun diperlakukan secara sakral. “Garuda Pancasila/ Aku lelah mendukungmu/ Sejak proklamasi selalu berkorban untukmu/ Pancasila dasarnya apa?/ Rakyat adil makmurnya kapan?/ Pribadi bangsaku tidak maju-maju.”
Continue reading

Hamzah Haz: “Jangan Percaya Hasil Polling”

HAMZAH Haz, 64 tahun, kini makin sibuk. Ketua Umum Partai Persatuan Pembangunan (PPP) ini tengah berkampanye untuk pemilu presiden 5 Juli mendatang. Bersama Agum Gumelar, seorang pensiunan jenderal, Hamzah getol menyambangi (calon) konstituennya. “Kalau Allah mengizinkan, saya bisa menang,” ujar Hamzah, sangat percaya diri.

Hamzah memang harus memupuk kepercayaan dirinya. Maklum, “Si Peci Miring” kelahiran Ketapang, Kalimantan Barat, ini bukan calon presiden yang populer. Pelbagai jajak pendapat (polling) selalu menunjukkan pasangan Hamzah-Agum menempati posisi nomor buncit. Mayoritas responden menilai duet Hamzah-Agum tak cukup kapabel untuk menuntaskan pelbagai persoalan bangsa. Soalnya, track record Hamzah selama menjadi wakil presiden dinilai tak memuaskan publik.

Mengapa Hamzah akhirnya maju ke pencalonan presiden? Benarkah Hamzah hanya menjegal Amien Rais? Bagaimana kansnya? Wartawan TEMPO Setiyardi mewawancarai Hamzah dalam beberapa kesempatan.

Berikut Kutipannya.

Anda adalah calon presiden yang terakhir mendaftarkan diri. Mengapa Anda terlambat mengambil keputusan?

Tidak terlambat. Saya mengikuti perkembangan politik yang ada.

Apa yang membuat Anda berani mencalonkan diri?

Prosesnya berlangsung sangat cepat. Pendaftaran saya hanya sehari sebelum batas akhir. Dewan Pengurus Pusat PPP menyerahkan keputusan sepenuhnya kepada saya. Saya maju karena ini amanat dari Rapat Pimpinan Nasional PPP dan juga 9 juta pemilih PPP.

Mengapa Anda memilih Agum Gumelar sebagai calon wakil presiden?

Pak Agum memiliki latar belakang militer dan nasionalis yang kuat. Beliau juga orang yang religius. Beliau tokoh dengan jaringan yang luas, mampu menembus batas-batas kelompok. Bagi saya, Pak Agum merupakan pasangan yang tepat. Saya dan Pak Agum dapat saling melengkapi.

Benarkah Anda sebenarnya tak serius, tapi hanya menjegal calon lain demi Megawati?

Saya tidak seperti itu. Kalau memang mau main mata dengan Ibu Megawati, itu bisa dilakukan sekarang. Tapi cara-cara seperti itu tidak benar. Pak Mahfud Md. bilang saya menjegal Pak Amien Rais. Pernyataan itu juga tak perlu ditanggapi. Mungkin ini jalan saya untuk mendapat pahala. Yang rugi justru Pak Mahfud sendiri.

Tapi memang Amien Rais paling dirugikan….

Kalau mau menjegal, kenapa harus berpayah-payah?

Pelbagai polling menunjukkan kans Anda paling kecil. Bagaimana?

Jangan terlalu percaya hasil polling itu. Yang ditanyakan dalam polling itu sangat sedikit. Tidak mewakili rakyat. Lagi pula belum tentu benar. Serahkan saja pemilu ini pada rakyat. Biar rakyat yang menentukan. Kalau memang Allah menghendaki, tentu saja saya dan Pak Agum bisa menang dalam pemilu presiden.

Bukankah ada polling yang menggunakan metode statistik yang dapat dipertanggungjawabkan?

Tidak usah khawatir. Jumlah pemilih mencapai 150 juta. Sedangkan yang ditanya lewat polling cuma ribuan. Jadi kita tidak bisa tahu siapa yang akan menang nanti.

ICW bilang Anda membagi-bagikan uang saat kampanye. Apakah itu untuk memenangkan pemilu?

Kalau membagikan uang, mungkin hanya untuk mengganti ongkos. Mana mungkin kami bisa membagikan ba-nyak uang. Kami ini duafa.

Berapa total biaya kampanye Anda?

Itu tim sukses yang mengatur. Tapi kami akan banyak mengandalkan partisipasi para simpatisan. Saya dan Pak Agum juga menyumbang. Tapi jumlahnya sedikit.

Kalau jadi presiden, apa yang akan segera Anda lakukan?

Kita harus membenahi kualitas sumber daya manusia kita. Itu persoalan utama yang harus diurus. Kualitas SDM kita masih tertinggal jauh dengan negara-negara maju. Untuk itu, saya akan memperbaiki sistem pendidikan kita. Saya akan membebaskan biaya pendidikan bagi anak SD sampai SMA. Mereka harus diberi kesempatan se-kolah secara gratis.

Mungkinkah?

Jangan lupa, kita adalah negara kaya. Kekayaan alam melimpah. Kalau itu bisa dimanfaatkan, dan korupsi diberantas, sekolah tentu bisa diberikan secara gratis.

Kalau Anda menang, benarkah Anda akan mengupayakan penerapan syariat Islam?

Bagi saya, ideologi Pancasila sudah final. Itu tidak bisa diganggu-gugat lagi. PPP memang sangat kental dengan Islam. Tapi Pancasila juga punya “Ketuhanan Yang Maha Esa”. Itu merupakan dasar untuk kita ber-habluminallah dan ber-habluminannas. Jadi, tidak ada masalah antara Pancasila dan Islam.

Wiranto di Sana, Prabowo di Sini

KABUT misteri masih membekap Tragedi Mei 1998. Hingga kini, tragedi yang menurut Tim Gabungan Pencari Fakta telah menewaskan 1.217 orang itu tak jelas juntrungannya. Pelbagai versi cerita masih menjadi silang pendapat. Jenderal (Purn.) Wiranto dan Letjen (Purn.) Prabowo Subianto, dua tokoh utama drama berdarah itu, saling melempar opini publik. Keduanya telah merilis “buku putih” dengan versi yang berbeda.

Dalam buku Bersaksi di Tengah Badai, Jenderal TNI (Purn.) Wiranto bertutur soal sepotong perjalanan hidupnya. Buku yang diterbitkan pada April 2003 lalu itu dibuat sebagai “klarifikasi” atas berbagai tudingan miring kepadanya. Soal Tragedi Mei 1998, misalnya, Wiranto menghabiskan 11 bab khusus. Wiranto, yang kini menjadi calon presiden dari Partai Golkar, menguraikan latar belakang dan inside story huru-hara yang berbuntut tumbangnya rezim Soeharto itu.
Continue reading

Amien Rais: “Pemilu Presiden Merupakan The Last Battle”

AMIEN Rais, 60 tahun, kembali membetot perhatian publik. Langkah kuda Amien yang “merangkul” tokoh politik–antara lain Abdurrahman Wahid, Hidayat Nur Wahid, Eros Djarot, dan Rachmawati Soekarnoputri–langsung membuat Amien diperhitungkan dalam jagat politik nasional. Ketua Umum Partai Amanat Nasional (PAN), juga doktor lulusan Chicago University, Amerika Serikat ini siap terjun ke pemilu presiden, 5 Juli 2004.

Amien politisi lihai. Meski suara PAN dalam pemilu 2004 tak sesuai dengan harapan, hanya sekitar 6,5 persen, Amien tak putus harapan. Lewat Forum Bersama Penyelamat Bangsa, yang ia dirikan bersama beberapa politisi lain, Amien mencoba memperbesar dukungan untuk pemilu presiden pada 5 Juli mendatang. “Koalisi merupakan strategi untuk memenangi pemilu presiden,” ujar Amien, tanpa malu-malu. Continue reading

Surya Paloh: “Masih Banyak Koruptor di Partai Golkar”

HARI masih muda ketika Surya Dharma Paloh, 53 tahun, bergegas menaiki pesawat pribadinya di Bandar Udara Halim Perdana Kusumah, Jakarta. Beberapa stafnya, termasuk seorang pengawal yang selalu menenteng sepucuk pistol di pinggang, mengikuti langkah Surya. Hari Minggu lalu, salah satu peserta konvensi calon presiden Partai Golkar ini berkampanye di Provinsi Lampung.

Di samping tangga pesawat bekas milik Ratu Inggris itu, kapten dan kru pesawat lainnya memberikan hormat. Dengan mantap Surya menapaki tiap anak tangga. Ia masuk ke kabin khusus pesawat jet tipe BAe 146 yang berkapasitas 50 penumpang itu. Begitu duduk, Surya langsung “menyantap” semua koran pagi dengan cepat. Lelaki yang memelihara cambang ini mengabaikan tawaran jus segar dari sang pramugari. Mendadak wajah Surya berubah jadi masygul. Pilot pesawat datang dan melaporkan pesawat tak bisa segera lepas landas karena Presiden Megawati baru tiba di bandara. “Sial, ada pencekalan di mana-mana,” ujar Surya.
Continue reading